Aremania: Bukan Organisasi


Aremania rukun tanpa ada ketua umum.  Tertib walaupun bukan yayasan.  Bersatu tetapi tidak ada susunan hirarkis.  Aremania itu bersifat inklusif melainkan ekslusif.  Sebenarnya istilah Aremania mempunyai dua arti.  Pertama-tama Aremania berarti para suporter PS Arema secara umum.  Akibatnya suporter Arema merasa begitu bersatu.  Arti yang lebih khusus itu anggota korwil-korwil Aremania.  Kekuatan dan kesatuan Aremania berdasarkan pada ide bahwa Arema adalah milik seluruh masyarakat Malang.  Namun ketertiban Aremania tergantung pada sistem pengurus korwil.  Arema begitu dinamis karena sampai sekarang menjaga kemandiriannya, yaitu berhasil melawan disalahgunakan pihak tertentu untuk tujuan tertentu.

Aremania:  Nama yang menyatukan

Pada umumnya Aremania berarti para suporter Arema.  Kalau mendukung Arema dianggap telah masuk Aremania.  Aremania merupakan sesuatu golongan masyarakat yang bersikap sangat inklusif.  Ada beberapa ungkapan yang menggambarkan perasaan persaudaraan Aremania.  Misalnya, ‘Ngalamania:  The Big Family’, ‘Aremania:  We are Always Together’ dan ‘Arema: Generasi Biru’.  Semua ungkapan ini berdasarkan pada gagasan populis.  Yang pertama ‘The Big Family’ berdasarkan pada ide bahwa Aremania itu sebetulnya keluarga luas yang dipersatukan oleh rasa kebanggaan terhadap kota Malang.  Yang kedua berarti ‘Aremania:  Kita selalu bersama-sama’ berdasarkan pada ide persatuan murni.  Yang ketiga ‘Generasi Biru’ mengenai Aremania sebagai generasi pemuda Malang yang menolak perilaku geng-geng untuk membangun Aremania.  Aremania mempunyai tujuan begitu murni bahwa bisa diterima semua orang tanpa kontroversi.  Persatuan Aremania itu dibangun dari bawah melainkan terpaksa dari atas.  Perasaan populis itu sesuai dengan Aremania karena kebanyakan suporter Arema dari kelas bawah.  Walaupun ada bagian suporter Arema dari latar belakang kelas menengah mereka merupakan minoritas suporter Arema.  Sering dikatakan Malang aman karena bersatu.  Malang sangat sulit untuk permunculan ekstremisme karena persatuan itu.  Keamanan kota Malang sebenarnya disebab persatuan Aremania itu, yaitu persatuan pemuda Malang.  Ketertiban Aremania yang diatur tokoh korwil dan tokoh Aremania tidak akan berhasil tanpa persatuan yang mucul karena nama Aremania.

Peran korwil

Sekarang ada kira-kira 183 korwil di Malang.  Setiap tokoh korwil adalah pengurus hal suporter di sebuah kampung atau daerah.  Sulit menghitungkan berapa jumlah korwil karena setiap korwil mandiri dalam pendiriannya.  Selain itu ada kelompok yang bukan korwil tetapi menemuhi peran agak seperti korwil.  Juga sistem ketertiban tersebut tidak bergantung pada ketua umum, yaitu Aremania bukan yayasan.  Kantor PS Arema merupakan pusat informasi untuk para tokoh korwil.  Kalau ada pertandingan di Malang PS Arema membagi tiket antara korwil-korwil (tetapi juga antara calo-calo).  Akibatnya tidak ada antréan suporter untuk membeli tiket.  Kemudian korwil menjual tiket pada anggotanya dengan harga loket.  Anggota korwil bisa dapat tiket dengan mudah.  Namun dikatakan di artikel ‘Aremanita Menepis Anggapan’, Bestari no. 156 2001 bahwa “ruginya, adanya korwil-korwil akan banyak muncul calo-calo muda di stadion yang tidak jelas identitasnya”.  Kalau tiket ekonomi, harganya telah mahal sekali jadi calo-calo pada umumya terpaksa menjual pada harga loket.  Namun masih ada maanfaat sebagai anggota korwil yaitu pasti dapat tiket pada harga loket.  Kalau pertandingan ramai calo-calo bisa menaikkan harga tiket.  Misalnya pada pertandingan Arema melawan Persikota, pada jam 13.00 (permulaian pada jam 15.30) calo-calo minta sampai Rp. 25.000 untuk Ekonomi dan sampai Rp. 65.000 untuk VIP, walaupun harga loket Rp. 12.000 dan Rp. 35.000.  Sampai waktu sebentar sebelum permulaian pertandingan harga tiket maupun ekonomi atau VIP telah mahal sekali.  Katanya sampai Rp 100.000 untuk VIP.  Kalau datang pagi-pagi ke stadion bisa dapat tiket dengan harga murah.  Anggota korwil bisa langsung membeli tiket dari tokoh korwil saja.  Manfaat lagi adalah bahwa anggota bisa membeli tiket di kampung sendiri tidak harus sampai stadion.  Ini khususya manfaat untuk korwil yang jauh dari Jl. Semeru.  Anggota sebuah korwil membayar iuran setiap bulan dan menerima dua kartu identifikasi.  Kartu yang pertama dipakai di dalam korwilnya saja, yaitu untuk diidentifikasikan dalam kampungnya sebagai anggota korwil Aremania.  Yang kedua untuk penggunaan di luar tempat korwil maupun di luar Malang.  Oleh karena itu kartu itu dapat stempel Polresta Malang.  Kalau seorang anggota Aremania terdapat kesulitan selama ikut tur bisa memakai kartu itu untuk dapat bantuan karena dengan kartu itu diakui sebagai anggota formal Aremania.  Maanfaat untuk para suporter Arema adalah bahwa mereka bisa diatur dengan mudah kalau ada tur.  Misalnya karena sistem organisasi itu 8.000 sampai 10.000 suporter Malang bisa ke Jakarta atau Gresik tanpa ada kerusuhan atau masalah serius apapun.

Peran tokoh korwil sebetulnya sangat menarik karena itu bersifat informal sambil formal.  Tokoh korwil disukai anggotanya karena dia kawannya.  Namun dia bertanggung jawab untuk ketertibannya.  Peran tokoh korwil diakui oleh RT setempat dan Polresta Malang.  Memang tokoh korwil mempunyai hubungan dengan PS Arema, RT dan polisi untuk melancarkan kegiatan suporter.  Kalau Aremania mau ikut tur ke kota lawan tim Singo Edan harus meminta izin terlebih dahulu dari PS Arema.  Kemudian korwil-korwil minta izin dari Polresta Malang.  Korwil-korwil Aremania tidak hadir di stadion di kota lawan Arema tanpa memberitahu dan mohon izin dulu.  Bonek musuh Aremania berbeda.  Mereka sering hadir di tempat pertandingan tanpa peringatan dan tanpa undangan apapun.  Hubungan Aremania dengan Polresta ternyata melancarkan perjalanan Aremania ke tempat pertandingan Away.  Misalnya pada April 2002 Aremania berangkat ke Jakarta dari stasiun Kotabaru Malang dan dua kereta api yang disediaka khusus untuk Aremania tidak cukup untuk mengantar ribuan suporter yang hadir.  Namun polisi siap untuk persoalan ini dan mengirim dua truk untuk mengantar lain-lainnya suporter ke stasiun Jombang.  Di Jombang ada kereta api siap untuk sisa perjalanan.  Untuk tur yang diberi nama Tur Batavia 2002 tokoh-tokoh korwil menawar supaya Aremania dapat harga tiket kereta api yang lebih murah daripada harga biasa.  Kalau ada tur anggota korwil diminta memberitahu kalau mau ikut kepada tokoh korwil.  Namun disamping jumlah yang sudah memberitahu kepada tokoh korwil ada yang hadir saja pada waktu keberangakatan.  Makanya kendaraan yang disediakan kurang cukup.

Karena kehormatan Aremania terhadap tokoh korwil peran dia secara informal lebih luas dari hal suporter sepak bola saja.  Pak Hazmi korwil Kehitangan daerah sekitar Jl. Basuki Rachmat menceritakan bahwa di kampung itu pernah ada konflik atas soal minuman keras di kampung.  Di kampung ada kelompok yang suka minuman keras yang terhadap kelompok tidak mau mentoleransikan itu.  Akibatnya dua kelompok itu pernah berkelahi.  Diceritakan bahwa dia terlibat dalam peran menengahi masalah itu.  Mungkin karena korwil dihormati oleh orang di kampungnya dai bisa membatasi masalah kampung supaya tidak ada konflik serius.  Meskipun itu, peran utama tokoh korwil adalah pengurusan Aremania.

Kelihatannya korwil muncul dimana-mana secara alami.  Misalnya di daerah Batu.  Ada korwil dengan teman-temannya yang berikhtiar mendirikan korwil Bumi Aji.

Ini contoh orang pemuda membuat sesuatu untuk sendiri, yaitu tidak menunggu orang lain tetapi memprakarsai.  Juga ada perkumpulan polisi Malang yang merupakan korwil polisi.  Korwil-korwil tidak dibatasi susunan hirarkis dan jumlah tidak terbatas.  Karena itu juga antara 183 korwil kadang-kadang tidak ada kesepakatan.  Diceritakan bahwa korwil Pak Marheis yang pada umumnya beranggota etnis Madura dianggap beberapa korwil lain sebagai kelompok yang merebut Aremania.  Mereka merasa bahwa kelompok Marheis dapat keuntungan dari Aremania.  Masalah ini muncul dari hal tiket bis pada waktu Aremania tur ke Solo.  Pada waktu tiket bis diatur, Pak Marheis dapat diskon namun dia tidak kasih tiket yang lebih murah kepada suporter.  Hanya kelompok Pak Marheis dapat keuntungan dari penjualan tiket.  Korwil-korwil lain yang anggotanya pada umumnya orang Jawa tidak mengkritik korwil itu secara langsung tetapi semuanya mengadu kepada korwil Kehitangan.  Contoh ini sangat menarik karena sesuai dengan ciri-ciri mengenai hubungan antara suku bangsa Jawa dan Madura.  Yang jelas ini sesuatu konflik yang berasal dari konteks Jawa Timur.  Di seluruh Jawa Timur ada perasaan samar-samar saling tidak percaya antara suku Jawa dan Madura.  Di Malang muncul melalui korwil-korwil Aremania.  Akibatnya cerita itu menurut Bpk Hazmi sendiri adalah bahwa dia dan Marheis itu menjadi semacam musul di dalam Aremania.  Yang jelas kedua tokoh itu mempunyai latar belakang yang berbeda dan pendapat berbeda terhadap masa depan Aremania.  Akibatnya ada ketidaksetujuan yang mencolok.  Soalnya karena ada begitu banyak korwil pasti kadang-kadang semacam konflik muncul.  Namun yang penting diingatkan adalah bahwa itu jauh dari persaingan keras yang dulu terjadi antara geng-geng Malang.  Pak Hazmi dan Pak Marheis tidak sampai memakai kekerasan untuk menyelesaikan masalah.  Lagipula tujuan mendukung Arema cukup untuk mencegah konflik serius antara korwil-korwil.

Di samping korwil-korwil ada semacam kelompok yang memenuhi peran yang hampir sama dengan korwil namun tidak pakai nama korwil.  Kelompok itu adalah semacam korwil informal.  Salah satu contoh adalah kelompok yang bernama Arema Tlogomas.  Mereka bukan korwil, apalagi mereka bukan Aremania.  Menurut ketuanya, mereka Arema bukan Aremania karena tujuan mereka mendukung Arema tetapi bukan itu saja.  Tujuan yang lebih dipenting adalah mendukung persatuan Indonesia.  Di tempatnya ada gambar mantan Presiden Soekarno dan bendera Indonesia.  Upayanya tergantung pada semangat dan sumbangan dari anggotanya.  Selain itu mereka menjual bermacam-macam kerajinan supaya ada sumber dana untuk kegiatannya.  Kegiatan termasuk perayaan terhadap Indonesia dan Arema setiap Agustus.  Ternyata bahwa mereka tidak diterima di daerah sekitarnya oleh RT.  Jadi mereka tidak mempunyai status resmi seperti korwil.  Walaupun jumlah korwil banyak dan ditambah kelompok suporter lain, semuanya muncul rukun sekali di stadion.  Sebenarnya itu karena Arema dan sepak bolanya tetap dianggap sebagai milik seluruh masyarakat Malang.

Menjaga Kemandiran

Pernah didebatkan apakah Aremania lebih baik dilembagakan supaya lebih rukun?  Argumen bahwa Aremania akan lebih tertib lagi kalau diorganisasikan benar-benar mempunyai jasa.  Di samping itu sudah ada tokoh yang secara informal memenuhi peran koordinator antara korwil-korwil.  Mungkin mendirikan ketua Aremania tidak begitu berbeda dari tokoh informal yang sedang memperbolehkan keteraturan dengan lancar antara korwil-korwil.

Namun ada bahaya serius dalam menjadi yayasan.  Begitu parah bahwa itu bisa menghancur Aremamia.  Aremania kalau telah dilembagakan dapat dengan mudah disalahgunakan oleh pihak tertentu termasuk kepentingan politik.  Kalau disalahgunakan dengan berhasil persatuan Aremania bisa hancur.  Di artikel ‘Aremania Sebuah Gerakan Rakyat’ di Kompas 1 April 2002 diceritakan bahwa pihak kepentingan politik pernah mencoba menyalahgunakan Aremania.  Pemerintah kota Malang pernah mencoba memakai Aremania untuk menghadang gerakan kelompok-kelompok reformasi.  Di samping itu pada waktu pemilihan Wali kota ada upaya untuk membuat Aremania pendukung calon tertentu.  Juga dirigen Aremania Yuli Sugiantopernah diundang sebuah parpol menjadi anggotanya.  Mungkin parpol tersebut berpendapat bahwa bisa menarik banyak anggota baru dengan pemasukan Yuli.  Soalnya kehormatan terhadap Yuli berdasarkan pada ide bahwa Aremania itu netral.  Kalau dia masuk parpol itu mungkin yang mulai ada kehilangan perasaan kehormatan terhadapnya.  Yuli menolak parpol itu dan sebetulnya semua partai politik.  Dia merasa sangat kecewa pada penimpin politik Indonesia.

Karena tidak ada ketua di atas Aremania kepentingan politik terhadap kesulitan menyalahgunakan Aremania.  Aremania pada umumnya menghindari soal politik karena kalau terlibat persatuan Aremania akan hilang antara konflik mengenai ideologis dan kepentingan politik.  Sampai sekarang Aremania pada umumnya menolak usul bahwa lebih baik dilembagakan karena soal itu.  Suporter sampai sekarang menjaga kemandirian Aremania.

SALAM SATOE JIWA!

Dikutip dari hasil skripsi oleh John Psilopatis di UMM

2 Komentar

  1. siiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiip…..


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Aremania Balikpapan

  • Twitter Terbaru

    • mungkin aku sudah lelah,boyokku sudah terasa peyok.Wayahnya ngasoh sek.futsalan ae wes... 1 day ago
    • Assalamualaikum...sugeng morning. Dipagi yg full barokah ini,more mbois if kita ngopi dulu,biar awet ireng.Lets start the day with ngipok 1 day ago
    • @baguseko60 sakjane anu...yoopo yo? ngene loh.....ngerti kan? 1 day ago
    • @achmdsyahroni93 oalah,baru buka kenek an ron. dijawab opo gak iki? enko jare sombong lek gak dijawab 1 day ago
    • setelah sekian lama tidak buka twitter,kali ini ane mau bikin kicauan. ngene loh kicauane... 2 days ago
  • Follow junedoyisam on Twitter
  • Pendelok

    • 343,417 wong
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

  • My Family