Revolusi PSSI dan Aremania


Beberapa waktu yang lalu penuh dengan hiruk pikuk carut marutnya persepakbolaan indonesia. Apalagi setelah kongres 4 tahunan PSSI akan masuk pada babak baru setelah komite banding menolak banding 2 calon yg gagal dan membatalkan hasil dari komite pemilihan, dimana tentu masih tetap banyak intrik politik yang bermain disana.
Gerakan-gerakan revolusi PSSI yg terus didengungkan di berbagai daerah, oleh berbagai elemen masyarakat dan suporter, termasuk oleh kawan-kawan di twitter (yg anehnya masih banyak yg berteriak tanpa turun didunia nyata). Dan sudah seminggu terakhir ini kantor PSSI menjadi arena demonstrasi dari berbagai elemen suporter.
Lalu dimana aremania? Kenapa aremania diam saja? Apa benar aremania diam saja? Tiba-tiba pertanyaan-pertanyaan ini banyak muncul kembali, pertanyaan yg bagi saya adalah sangat konyol, mengapa? Sangat sederhana, untuk ikut dalam sebuah revolusi, terutama revolusi PSSI saya rasa kita tidak perlu dengan gamblang mempertontonkan siapa kita, dari elemen mana kita, siapa yg kita dukung, karena yg harus dikedepankan adalah sepak bola Indonesia. Dan mengatasnamakan diri sebagi Suporter Indonesia harusnya menjadi lebih utama daripada hanya #pencitraan sebagai suporter klub tertentu.
Aremania memang terkesan diam saja dalam menyambut gerakan #bergerak dan#revolusiPSSI, namun terkesan diam bukan berarti tidak melakukan apa-apa bukan? Saya pribadi melihat bahwa banyak aremania yg sudah bergerak, mendorong revolusi PSSI, namun mungkin memiliki jalur yg berbeda dengan apa yg dilakukan oleh teman-teman suporter lain dan mungkin juga tidak dengan gamblang menggunakan atribut aremania. Aremania sudah meneriakkan tentang revolusi PSSI sejak bertahun-tahun yang lalu, tidak hanya baru-baru ini, dan kami tidak pernah berhenti meminta dan mendorong #revolusiPSSI.
Saya geli ketika membaca berita yang mempertanyakan kemana aremania saat demo-demo berlangsung, padahal dengan pasti saya dapat membuktikan kalosahabat-sahabat saya telah menjadi bagian dari ratusan orang yg berkumpul di seputaran GBK, tidak kah kalian mencari lebih teliti? atau malah kalian tidak disana?
Revolusi PSSI sebagai salah satu langkah untuk perbaikan sepakbola Indonesia harusnya menjadi sebuah gerakan yang murni dan independen, tanpa andil calon ketua tertentu atau andil politik kekuasaan yg lainnya.
Ini yg menarik, banyak yg bilang karena arema ada di LSI maka secara otomatis mendukung NH, karena arema kemaren juara maka arema dukung NH, karena arema disponsori Ijen Nirwana maka arema dukung NH. Oh C’mon. maka jika demikian, bagaimana 14 tim LSI yg lain dan tim-tim dari divisi utama, divisi 2, dan divisi 3 juga mendukung NH? Arema baru 1 kali juara LSI, bagaimana dengan sriwijaya FC dan persipura yg juga pernah juara LSI? atau persisam (juara divisi utama musim lalu) apakah mereka juga mendukung NH? Sebuah konklusi yg sangat dangkal!
Saya harap anda dapat membaca artikel-artikel tulisan saudara kami sesama aremania di http://wearemania.net tentang bagaimana pandangan kami mengenai perjalanan arema, aremania, dan PSSI diantara LSI dan LPI, sebelum anda berkonklusi jauh lebih dangkal lagi. Banyak mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya tentu akan memberikan banyak elemen positif dalam komentar kita.
Sepemahaman saya, Aremania tidak mendukung NH dkk, tapi tidak juga mendukung AP atau GT, kenapa? Karena kami ingin perubahan yg murni tentang sepakbola Indonesia, tanpa andil politik maupun #pencitraan.
Menjadi bagian dari LSI tidak berarti tidak revolusioner dan tidak mendukung AP dan GT juga bukan berarti tidak revolusioner. Ini lah yg masih rancu bagi saya sebagai aremania menanggapi segala isu tentang revolusi PSSI, karena saya pribadi menganggap sosok AP dan GT belum tentu dapat menjadi sosok revolusioner yg hanya berupaya untuk mengangkat sepakbola indonesia tanpa maksud yg lain, mengingat munculnya LPI dan segala kontroversinya. dimana sepakbola sudah sering kali dijadikan ajang pencitraan politisi yg ingin bertarung diajang pilkada dan politik nasional.
Suporter punya peran yg sangat besar untuk terus menerus mengingatkan manajemen klub masing-masing untuk berupaya giat keluar dari belenggu APBD dan mendorong #revolusiPSSI lingkungan terkecil sepak bola Indonesia.
Apabila klub bisa mandiri dan profesional, tentu kita berharap PSSI akan berbenah karen sudah makin sempitnya ajang korupsi dan judi atur pertandingan. Meski sulit, pola kooperatif ini harus terus dorongan agar PSSI melakukan revolusi terhadap pola pengelolaan dan revolusi terhadap sosok-sosok pengelola sepak bola indonesia.
Bagi saya sebagai seorang suporter biasa, yg bisa dilakukan untuk mendorong revolusi PSSI bukan hanya dengan demo di Jakarta maupun daerah, tapi bagaimana kita sebagai suporter pembeli tiket, terus menerus berusaha mengingatkan pihak klub untuk terus berupaya meningkatkan taraf sepakbola dan melakukan revolusi didalam klub itu sendiri, karena klub lah yang memiliki porsi tertinggi dan utama dalam pemilihan ketua umum PSSI yg baru, dan bagaimana kita mengingatkan klub untuk memilih sosok ketua yg amanah, adil, bijaksana, dan tentunya bekerja untuk kepentingan sepakbola indonesia dan bukan kepentingan golongan yg lain.
Semua demo yg diadakan diseluruh indonesia akan menjadi percuma ketika masih banyak klub yg bergantung dengan APBD, mendukung NH, atau memilih keluar dari jalur yg ada –seperti ikut LPI– karena klub lah yg menjadi tulang punggung berhasilnya sepakbola indonesia.
Satu hal yg membuat miris adalah munculnya wacana untuk memboikot seluruh pertandingan sepakbola, dengan tidak menonton di stadion maupun di televisi, suatu ajakan yg bagi saya sangatlah dangkal, karena yg selama ini menjadi akar masalah bukanlah di klub, tapi bagaimana sosok-sosok di dalam PSSI mengelola sepakbola dengan ‘baik’.
Paklek pernah bilang jika suporter tidak nonton di stadion, seperti memisahkan ikan dari airnya.
Boikot PSSI dengan tidak menonton di stadion itu bagi saya akan sangat mencederai hubungan erat supporter dengan klub yg didukungnya..
Bagaimana sebuah klub bisa bertanding dengan semangat apabila tidak didukung oleh suporter fanatiknya, dan bagaimana arema bisa bertahan hidup jika tidak ada suporter yg membeli tiket stadion kanjuruhan ketika 70% pendapatan arema berasal dari sektor tiket? Saat klub bangkrut, apakah PSSI sekarang akan berbenah? Jawabannya tetap saja belum tentu.
Ada banyak cara menuju revolusi PSSI dan menuju sepakbola Indonesia yg lebih baik, semua sedang mengambil peran masing-masing dan alangkah indahnya jika jangan meminta peran dari yg lain sebelum anda memberikan kontribusi anda.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Aremania Balikpapan

  • Twitter Terbaru

    • mungkin aku sudah lelah,boyokku sudah terasa peyok.Wayahnya ngasoh sek.futsalan ae wes... 1 day ago
    • Assalamualaikum...sugeng morning. Dipagi yg full barokah ini,more mbois if kita ngopi dulu,biar awet ireng.Lets start the day with ngipok 1 day ago
    • @baguseko60 sakjane anu...yoopo yo? ngene loh.....ngerti kan? 1 day ago
    • @achmdsyahroni93 oalah,baru buka kenek an ron. dijawab opo gak iki? enko jare sombong lek gak dijawab 1 day ago
    • setelah sekian lama tidak buka twitter,kali ini ane mau bikin kicauan. ngene loh kicauane... 2 days ago
  • Follow junedoyisam on Twitter
  • Pendelok

    • 343,417 wong
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

  • My Family