Arema, Fenomena Entrepreneur

Berbicara perihal Arema bukan semata olah raga atau sebatas sepakbola.  Arema adalah wajah multifaset, memuat olah raga sepak bola, klub, penonton, fans dan perilaku sosial ekonomi orang-orang di sekitarnya.  Resultan dari itu semua menghasilkan kohesivitas yang secara langsung atau tidak langsung menghidupkan dan memberi manfaat orang-orang di sekitarnya.

Memang fokus inti Arema ada pada coach Robert Albert, dan para pemain misal Esteban atau Alamshah.   Tapi ketika di lapangan semua perasaan menyatu ke dalam gairah untuk menampilkan atraksi, menemukan manfaat dan meraih kemenangan.  Perhatian Aremania(sebutan bagi pendukung Arema) atau bahkan warga Malang akan tersedot di lapangan permainan.  Lahir semacam kebutuhan untuk memikirkan, melihat dan mendatangi stadion.

Ada banyak pertanyaan mengapa fenomena Arema tidak ditemukan di klub-klub lain.  Padahal ada sisi yang biasa-biasa saja pada Arema.  Dilihat dari homebasenya, stadion Kanjuruhan tidak berbeda dengan stadion lain.  Bahkan lebih kecil dibanding stadion Manahan Solo, Tambaksari Surabaya, Deltras Sidoarjo, atau Jakabaring Palembang.  Posisi stadion Kanjuruhan juga di luar kota, hanya kota kecamatan Kepanjen.  Sementara stadion homebase klub lain lebih memilih posisi di kota.

Fenomena kelebihan Arema terletak pada aspek sosialnya.  Penduduk kota Malang atau Malang raya meskipun mewarisi tradisi agraris namun punya karakter egaliter dan partisipatif, yang jelas bukan agraris feodal.  Arek Malang bisa partisipatif karena punya modal, berupa semangat, ilmu pengetahuan dan finansial.  Jadi langkahnya arek Malang memang mantap, meyakinkan dan jauh.  Dengan kata lain karakter entrepreneursejak dulu memang sudah terbangun pada masyarakat Malang.  Apa buktinya?  Malang adalah wilayah yang maju dalam industri pengolahan, baik itu makanan minuman, maupun ketrampilan industri lainnya.  Malang telah menjadi magnit bagi aliran barang, jasa dan orang bagi wilayah-wilayah sekelilingnya, atau bahkan siap menerima investasi dari manca negara.  Kita semua masih ingat Malang adalah kota yang maju dalam perkoperasian nasional pada tahun 1970an.  Saat itu, Malang menjadi model pengembangan koperasi bagi wilayah lainnya di Indonesia.  Sekarang, Malang memiliki predikat tambahan menjadi kota jasa pendidikan dan wisata, yang siap menyaingi Surabaya.

Dalam konsepsi pembangunan wilayah, entrepreneurship adalah kekuatan internal terpenting penghasil nilai tambah ekonomi sekaligus keunggulan wilayah. Kekuatan internal tersebut adalah inovasi yang dilandasi iptek, dan kemampuan kewirausahaan.  Inovasi diibaratkan bahan bakar, sementara entrepreneurship adalah mesin.  Keduanya menjadi sumber kesempatan kerja, pendapatan dan kesejahteraan.  Ekonomi wilayah biasanya tidak lagi diperankan oleh usaha besar, tetapi oleh usaha-usaha kecil dan menengah yang lincah dan efisien.  Kinerja ekonomi demikianlah yang menghidupi kota Malang dan sekitarnya.  Para pelaku ekonomi telah mengalami proses pembelajaran dalam jangka waktu lama untuk menciptakan kenyamanan iklim usaha, ketrampilan bisnis dan didukung kesiapan SDM yang bermutu.

Karakter entrepreneur adalah melihat sisi positif atau manfaat, penuh perhitungan  dan mandiri.  Penulis berani mengatakan bahwa inilah ’ruh’ nya Arema atau Aremania.   Aremania adalah pribadi-pribadi yang dewasa mengambil keputusan.  Mereka melihat dan mendatangi stadion karena ingin memperoleh manfaat dari atraksi sepak bola.  Mereka bersedia berkorban fisik dan finansial, atau meninggalkan kegiatan lain, untuk memperoleh manfaat atraksi pemain pujaannya.  Resiko itu telah dihitung demi tercapainya kepuasan.  Perasaan senasib berkorban inilah yang membangun kebersamaan untuk menciptakan rasa aman saat menonton bola.  Lahir suatu perasaan cinta  sekaligus melindungi satu sama lain dalam wadah Arema.   Rasa aman dan cinta itu mengubah dunia sepak bola lebih bersahabat.  Arema telah menjadi tontonan keluarga termasuk wanita, bukan hanya dunia pria.

Fenomena Arema sesungguhnya merupakan bangunan sosial capital.  Arema telah bermetamorfosis dari sekumpulan penghobi atau pendukung sepakbola menjadi kekuatan ekonomi berbasis industri sepakbola.   Tidak terhitung berapa nilai atau manfaat ekonomi yang ditimbulkan, mulai dari transportasi, energi, makanan-minuman, asesoris, garmen, jasa periklanan atau jasa penunjang lainnya.  Semua itu tentu saja bersumber dari pengeluaran kantong Aremania.  Jelasnya Aremania bukan bermodal nekat, tetapi orang-orang yang mandiri dalam finansial.  Fenomena inilah yang senantiasa membuat stadion Kanjuruhan senantiasa penuh, yang mendorong industri sepakbola bergairah.  Hal yang membuat iri klub-klub lain.

Sumber dari blog punya pak Iwan

Salam Satoe Jiwa

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Aremania Balikpapan

  • Twitter Terbaru

    • mungkin aku sudah lelah,boyokku sudah terasa peyok.Wayahnya ngasoh sek.futsalan ae wes... 1 day ago
    • Assalamualaikum...sugeng morning. Dipagi yg full barokah ini,more mbois if kita ngopi dulu,biar awet ireng.Lets start the day with ngipok 1 day ago
    • @baguseko60 sakjane anu...yoopo yo? ngene loh.....ngerti kan? 1 day ago
    • @achmdsyahroni93 oalah,baru buka kenek an ron. dijawab opo gak iki? enko jare sombong lek gak dijawab 1 day ago
    • setelah sekian lama tidak buka twitter,kali ini ane mau bikin kicauan. ngene loh kicauane... 2 days ago
  • Follow junedoyisam on Twitter
  • Pendelok

    • 343,417 wong
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

  • My Family