Mengenang Tragedi Stadion Brawijaya Kediri (Bag-5 Habis, Aremania Bertransformasi Menjadi Wong Malang)

Delapan Ribu Aremania menyerbu Sidoarjo untuk mendukung Arema saat berlaga melawan Sriwijaya FC di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Rabu (23/1). “Kami datang tak membawa atribut Arema sesuai larangan PSSI,” kata Haji Slamet Karim, Aremania Korwil Tongan, Rabu (23/1).Menurut Haji Slamet, Aremania akan mendatangi Stadion Gelora Delta dengan mengenakan sarung, baju takwa, baju batik dan pakaian khas Bali. Pemakaian baju takwa dan batik ini sebagai simbol bahwa Aremania bisa tertib dan santun. “Selama pertandingan dijalankan sesuai dengan aturan, Aremania tidak akan melakukan tindakan-tindakan yang merusak,” ujarnya.Berdasarkan pantauan Tempo, ribuan Aremania ke Sidoarjo menaiki bus, kereta api dan mobil pribadi. Sekitar 2.000 Aremania telah berangkat dengan menggunakan Kereta Api Tumapel dari Stasiun Kota Baru Malang. Mereka terlihat memakai baju koko, baju batik, dan pakaian khas Bali. “Aremania muslim pakai baju koko. Aremania Nasrani pakai batikdan yang Hindu pakai baju khas Bali,” kata Nanang, Aremania dari Polehan.Di Posko Tim Advokasi dan Perjuangan Aremania se-Malang Raya di depan Stasiun Kota Baru diberangkatkan sekitar 25 bus Aremania dan puluhan kendaraan pribadi. Mereka berangkat secara rombongan. Setiap anggota rombongan dilengkapi dengan ID Card.Selain secara rombongan, diperkirakan banyak Aremania yang akan datang dalam kelompok-kelompok kecil maupun individu. Mereka akan berangkat menggunakan kendaraan umum dan kendaraan pribadi.

Saat itu penonton yang hadir di Sidoarjo tidak menyebut dirinya Aremania karena Aremania sedang terkena sanksi gak jelas dari PSSI. Jadi mereka menyebut dirinya “wong Malang”, sehingga sangsi dari PSSI tidak mengena kepada mereka. Efeknya, Arema tetap mendapat dukungan kala bertanding, bukan dari Aremania tapi dari wong Malang. Sungguh suatu kreatifitas yang tidak ada duanya.

BLI : SALUT AREMANIA

Bahkan Badan Liga Indonesia (BLI) saat itu memberikan acungan jempol kepada Aremania saat mendukung skuad Arema bentrok lawan Sriwijaya FC Palembang di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Rabu (23/1) malam. Ya, komunitas suporter fanatik Arema ini sangat kreatif dan unik dalam mensiasati hukuman tiga tahun tidak boleh hadir dalam stadion di pertandingan resmi PSSI.

Hukuman itu buntut kerusuhan Brawijaya Kediri, 16 Januari. Seperti yang tertuang pada keputusan Komisi Disiplin (komdis) PSSI, bernomor 95/KEP/KD/LI-XIII/1-08, 16 Januari lalu. Hukuman wajib dijalankan Aremania yang menggunakan atribut yang menandakan identitas pendukung Arema seperti kostum, poster, slogan, logo, spanduk dan sebagainya.

‘’Apa yang ditunjukkan Aremania di Sidoarjo kemarin (Rabu malam, Red), sah-sah saja. BLI melihat ribuan penonton itu, bukan Aremania, tetapi penonton biasa. Karena mereka tidak menunjukkan sebagai Aremania,’’ ujar Joko Driono, Manajer BLI yang juga menjadi salah satu anggota komdis PSSI kepada Malang Post, sore kemarin.

Aremania memang tampil beda di Gelora Delta kemarin. Mereka tidak lagi mengenakan atribut dan membawa logo yang menunjukkan diri sebagai Aremania. Tapi tampilan mereka sangat unik dan kreatif dengan menggunakan baju koko, batik ataupun baju tradisional Malangan. Itu merupakan penampilan pertama Aremania dalam mendukung tim kesayangannya pasca terjerat hukuman dari komdis.

Di sisi lain, mereka juga tampak semakin dewasa dengan menerima hasil pertandingan. Meski tim kesayangannya, Arema kalah 0-2 dari Sriwijaya FC, tapi sama sekali tidak ada protes yang berlebihan.

Bukan tidak mungkin, Aremania juga merasa kecewa dengan kepemimpinan wasit Najamudin Aspiran (Balikpapan) bersama asistennya dengan keputusan kontroversialnya. Tapi mereka tetap bisa menahan diri.

Kemudian ditambah lagi saat pulang ke Malang, rombongan bus Aremania mendapat lemparan di daerah Porong dan beberapa saat setelah keluar stadion. Toh, kondisi itu tidak menyulut mereka emosi dan tetap saja melanjutkan perjalanan.

‘’BLI mengucap terima masih kepada Aremania. Mereka mampu menunjukkan diri sebagai supporter yang baik di Sidoarjo,’’ tambah Joko.

Salam Satoe Jiwa

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s