Pelatih Legenda di Arema

1. Benny Dollo
Dari sekian pelatih yang pernah memperkuat Arema, Benny Dollo termasuk yang tersukses. 3 Musim bersama Arema menghadirkan 3 piala untuk Arema. 2 Gelar Copa Indonesia dan 1 Gelar dari Juara Divisi 1 memenuhi lemari trophy yang dimiliki oleh Arema. Dengan sederet prestasinya tersebut, tak salah jika Bendol(panggilan akrab Benny Dollo) adalah pelatih tersukses yang dimiliki oleh Arema. Di masa kepelatihannya Bendol memiliki formasi andalan 3-5-2 dengan mengandalkan wing back seperti Erol FC Iba, Sonny Kurniawan hingga Alex Pulalo. Sementara di lini tengahnya, Bendol memiliki variasi pemain pada diri Joao Carlos yang kehadirannya seolah menyihir lapangan dengan umpan-umpan akuratnya, Firman Utina dengan kecepatannya lari dan dribblingnya, I Putu Gede sebagai pemain jangkar, dan beberapa pemain lainnya. Sementara di barisan penyerang Bendol mempercayakan duet Junior Lima Filho-Rivaldo Costa sebelum berganti ke duet Emaleu Serge-Franco Hita. Dengan trio pemain belakang yang bertumpu pada Aris Budi Prasetyo, Sunar Sulaiman, Andela Atangana/Claudio De Jesus turut menjadikan Arema sebagai klub yang ditakuti ketika itu. Apalagi permainan satu-dua sentuhan yang menawan menjadi kunci bagi permainan Arema yang senantiasa unggul dalam penguasaan bola. Sayangnya, selepas Final Copa Indonesia 2006, Bendol lebih memilih meninggalkan Arema dan bergabung dengan klub lamanya, Persita Tangerang. Entah karena hukum karma setelah meninggalkan Aremania dalam keadaan diidolai, selama 4 tahun Bendol meninggalkan Arema tidak ada satupun piala yang mampu ia raih. Pun demikian ketika ia menjadi entrenador bagi Timnas Merah Putih. Kegagalan demi kegagalan di berbagai event kualifikasi membuatnya terpaksa menahan lapar akan gelar Juara.

2. Robert Rene Alberts
Ia datang ke kandang Singo Edan dengan berbalut keraguan yang ditumpukan kepadanya. Selepas kegagalan Arema di ajang ISL perdananya, tidak ada yang menyangka Arema akan berkilau setelah dilatihnya. Apalagi, menjelang bergulirnya ISL kedua, Arema masih kelimpungan dalam hal merekrut pemain. Di media Agustus-September tahun lalu, Arema kehilangan sekian pemain kuncinya macam Arif Suyono, Erik Setiawan, Fandy Mochtar, Dadang Sudrajat, dan lainnya. Dengan berbekal pemain “sisa” seperti Ahmad Bustomi, Benny Wahyudi, Kurnia Meiga, Roman Chmelo dan beberapa pemain lainnya, Robert membangun kekuatan dengan bertumpukan pada tambahan pemain kunci seperti ex pemain Timnas Kamerun di Piala DUnia 1998, 2002 Pierre Njanka, Pemain “buangan” dari Persisam M. Fakhrudin, Purwaka Yudi dan Juan Revi Auriqto dari Deltras dengan ditambah duo Timnas Singapura M. Ridhuan dan Noh Alam Shah serta Kiper Timnas Indonesia Markus Haris Maulana. 73 poin yang dihasilkan Arema ditambah sederet rekor baru menjadikan skuad Robert Alberts adalah yang terbaik yang pernah dimiliki oleh Arema sepanjang keikutsertaannya di Liga. Robert Alberts juga pintar dalam meramu/menemukan bintang baru seperti yang terjadi pada diri Kurnia Meiga, Irfan Raditya, Benny Wahyudi, Ahmad Bustomi, Juan Revi, Dendi Santoso. Musim kemarin, tidak banyak penggemar bola negeri ini yang mengenal mereka. Namun setelah mendapat sentuhan magis dari Robert Albert, perlahan namun pasti pelita yang padam itu seolah bersinar kembali. Ibaratnya pemian tersebut adalah pelitanya, Robert Alberts pemantiknya dan Aremania adalah udara yang berfungsi menjaga supaya dian itu takkan pernah padam. Bagi Aremania dengan mendengar nama Robert Alberts saja akan muncul kata-kata yang menakjubkan untuk menggambarkan tentangnya.

3. Daniel Rukito
Ia memang bukanlah pelatih dengan lisensi A Pro seperti yang disyaratkan BLi bagi pelatih yang ingin menukangi klub ISL. Namun, meski bukanlah pelatih berlisensi A, ia mampu menyulap beberapa tim untuk meraih masa keemasannya. PersiK pernah diasuhnya untuk menjadi Juara Ligina 2006, PSS Sleman yang pernah ditukanginya pernah ia raih dalam masa keemasannya dan meraih puncak prestasi berupa empat besar Divisi Utama 2004 dan Semifinalis Copa Indonesia 2005. Di Arema, Daniel Rukito pernah menukangi klub berjuluk Singo Edan selama 2 musim. Dengan dukungan minim, Daniel Rukito berhasil mengantarkan Arema ke babak 8 besar selama 2 kali pada kurun waktu tersebut. Ia juga mampu menemukan potensi pemain muda dan lokal menjadi pemain berkelas. Daniel Rukitolah yang mampu memoles pemain seperti Johan Prasetyo, Suswanto, Hermawan, Wawan Widiantoro, ditambah talenta seperti Khusnul Yuli, Setyo Budiarto, Aris Susanto adalah jaminan kesuksesan Daniel Rukito. Kesemuanya didapat dengan dukungan dana yang minim! Daniel Rukito melatih Arema dimana dimasing-masing musim era kepelatihannya hanya dibekali 2 pemain asing(Regulasi Liga ketika itu setiap klub boleh memiliki/memainkan 3-4 pemain asing ditiap pertandingan). Pada Ligina 2001, Daniel Rukito hanya mengandalkan Bamidelle Frank Bob Manuel sebagai legiun asingnya setelah gelandang serang asal Korea Selatan, Han Yong Kuk meninggalkan Malang setelah dikabarkan menderita homesick. Pada Ligina 2002 lebih parah lagi, kompetisi belum selesai Daniel Rukito terpaksa ditinggal 2 pemain asingnya Jaime Rojas dan Marcus Rodriguez dikarenakan permasalahan kontrak yang tidak kunjung jelas. Meski tertatih-tatih di babak 8 besar dan gagal lolos ke babak berikutnya, prestasi yang diterima Daniel Rukito sudah sangat hebat jika dibandingkan dengan “modal” yang ia terima ketika menjelang kompetisi bergulir.

4. M. Basri
Andai M. Basri bersedia menukangi Arema hingga akhir musim Galatama 1992/1993 maka lengkaplah sudah jerih payah yang berbuah prestasi dari yang seharusnya ia terima. Sayangnya ketika itu M. Basri lebih menerima pinangan Alm A. Wenas(Manager NIAC Mitra) untuk menukangi NIAC Mitra yang ketika itu terpuruk di papan bawah. Cerita “dibajaknya” M. Basri langsung menjadi pergunjingan penonton bola seMalang Raya. Tuduhan M. Basri keluar dari Arema demi uang disanggahnya bahwa ia merasa memiliki hutang budi dengan A. Wenas dan NIAC Mitra. Yang pasti selepas tragedi tersebut hubungan suporter Malang dan Surabaya bertambah memanas. Acapkali ketika Mitra Surabaya bertanding ke Malang melawan Arema, Stadion Gajayana Malang penuh dibuatnya. Salah satu laga terpanas yang melibatkan kedua tim adalah di laga terakhir Liga Indonesia I dimana sekitar 20.000 penonton menyaksikan kemenangan Singo Edan atas tamunya yang berganti nama menjadi Mitra Surabaya dengan skor 2-1. Singgih Pitono mencetak dua gol di babak pertama hasil tendangan geledek dari titik penalti dan tendangan bebas yang menjadi spesialisasinya.
Kembali ke cerita M. Basri. Dia memang tidak menutup cerita sempurna yang dibuatnya bersama Arema ketika Arema berada di posisi papan atas Galatama 1992/1993. Sejarah hanya mencatat Gusnul Yakin, arek Malang yang di Galatama 1992 menempati posisi sebagai asisten pelatih PKT Bontang menjadi pelatih Arema yang merasakan gelar juara pertama kalinya bagi Arema. Namun, bagi penggemar Arema ketika itu seolah mencatat M. Basri adalah figur pelatih yang memberikan warna permainan Arema yang lugas dan keras dengan kesuksesan yang lebih dibandingkan yang didapat pelatih-pelatih Arema sebelumnya. Dengan mengandalkan bomber Singgih Pitono(akhirnya menjadi top skorer Galatama di musim tersebut dengan 16 gol), dan Mecky Tata membuat lini depan Arema serasa garang. Belum lagi barisan gelandang seperti Jonathan, Dominggus Nowenik, dan kiper tangguh sekelas Nanang Hidayat. Yah, mereka adalah bagian dari tinta emas yang ditulis dalam buku prestasi Arema.
Selepas menerima pinangan Niac Mitra, M. Basri sempat berpindah ke beberapa klub diantaranya PSM Makassar yang ia antara untuk meraih Runner Up Liga Indonesia II dan Semifinalis Liga Indonesia III. Setelah itu ia kembali memperkuat Arema di Liga Indonesia 2000. Dengan diperkuat oleh Trio Chile yang berisikan Rodrigo Araya, Juan Rubio, Pacho Rubio dan bomber asal Kamerun Charles Essomba Atangana ditambah lagi barisan pemain yang sedang menemukan masa emasnya seperti Charis Yulianto, I Putu Gede, dan Kiper Agung Prasetyo. Babak 8 besar berhasil digapainya dengan status sebagai Runner Up Grup Timur. 2 penampilan awal gemilang Arema ketika mengalahkan Persija Jakarta 2-1 dan seri 1-1 melawan Persikota Tangerang sempat membuat Aremania melambungkan asa kepadanya agar Arema mampu menggapai satu tempat di semifinal. Apa daya di pertandingan terakhir yang tinggal berhadapan dengan Pelita Solo pemain Arema terlihat loyo dan akhirnya kalah 3-0. Padahal ketika itu Pelita Solo sudah ditinggalkan barisan pendukungnya Pasoepati yang sebelumnya ikut memadati Senayan bersama Aremania. Puluhan Pasoepati yang masih hadir di Stadion sudah memberikan dukungannya kepada Arema setelah Pelita Solo dinyatakan gugur di fase 8 besar karena tidak mengoleksi satu poinpun akibat kalah melawan Persija dan Persikota di partai sebelumnya. Harapan yang pupus tersebut masih ditambah lagi issue jual beli pertandingan dan hutang Arema sebesar 300juta rupiah kepada pengusaha asal Lamongan Jeng Sri, Pemilik Cafe Hore-Hore. Sekitar 1500 Aremania melakukan demo ke balaikota selepas kembalinya Aremania dari tour ke Batavia menggunakan kereta api di depan Balaikota Malang. Tidak lama setelah itu, Manager Arema Alm. Gandhi Yogatama mengundurkan diri sebagai manager dan M. Basri berurutan sebagai kiper Arema. Ligina VI adalah kiprah terakhir M. Basri bersama Arema hingga saat ini.

5. Alm. Andi M. Teguh
Anda tentu tidak menyangka kenapa saya lebih memasukkan nama Andi M. Teguh dibandingkan pelatih Gusnul Yakin yang tercatat sejarah mampu mengantarkan Arema sebagai Juara Galatama 1992/1993, Sinyo Alindoe mantan pelatih Timnas yang menjadi peletak dasar permainan Arema atau pelatih sekaliber Miroslav Janu yang mampu mengantarkan Arema menembus babak 8 besar di Liga Indonesia 2007/2008. Jawabannya, karena Andi M. Teguh mampu mempertajam ciri khas permainan Arema yang cenderung lugas, keras dan trengginas. Andi Teguh melatih Arema sejak sekitar pertengahan Galatama 1988/1989 hingga Galatama 1990/1992 sebelum digantikan M. Basri. Ia mampu mengkilapkan sinar prestasi beberapa punggawa Arema seperti Mecky Tata untukmeraih gelar Top Skor Galatama 1988/1989 dengan 18 gol ditambah Singgih Pitono pada Galatama 1990/1992 dengan 21 gol. Sementara prestasi bersama tim Arema adalah mampu menempatkan tim berjuluk Singo Edan ini keposisi 4 besar Galatama 1989/1990 dan Galatama 1990/1992. Sebuah prestasi mengkilap bagi Arema ketika itu dimana Arema banyak menempatkan pemain lokal dan nonbintang seperti Singgih Pitono, Maryanto, Mecky Tata, Mahmudiana, Nanang Hidayat, Aji Santoso, ditambah pemain senior Joko Slamet, Panus Korwa.
Bersama Arema, Andi M. Teguh sanggup mengantarkan tim ini menjadi Runner Up Piala Galatama 1992 setelah pada pertandingan final 21 Juli 1992 dikalahkan Semen Padang dengan skor 1-0. Kiprahnya bersama Arema juga terdapat pada Piala Utama 1990. Sayangnya, langkah Arema ketika itu terhenti di babak Group Stage yang diikuti 8 tim dan terbagi dalam dua grup. Posisi Arema menjadi juru kunci klasemen yang dimainkan di Stadion Siliwangi, Bandung.

Nominasi lain :
Gusnul Yakin memang meraih Juara Galatama 1992/1993. Tanpa bermaksud mengecilkan arti dari jasa besar Gusnul Yakin kepada Arema, beberapa kegagalan di Ligina II, dan ISL 2008/2009 menjadikan sinar kejayaannya bersama Arema seolah tenggelam. Namun, seperti yang saya katakan diatas Gusnul Yakin adalah salah satu pelatih yang berjasa besar kepada Arema. Bahkan, saking berjasanya ia pernah rela tak dibayar ketika melatih Arema di salah satu musim kompetisi dimana Arema mengalami problem klasik, kesulitan dana.

Di luar nama Gusnul Yakin terdapat Miroslav Janu yang berkutat pada formasi 4-4-2 dengan dukungan pasokan lini tengah yang garang dan digawangi 4 kuartet Arif Suyono-Tarikh El Janaby-Ponaryo Astaman-Ellie Aiboy. Bersama duet maut Pato Morales dan Emile Bertrand Mbamba membuat Arema mampu menembus babak 8 besar Liga Indonesia 2007/2008 di tengah persaingan ketat 18 peserta kompetisi di Grup Timur. Sayang kiprahnya bersama Arema terhenti karena tidak sepakat untuk perpanjangan kontrak bersama Arema menjelang bergulirnya babak 8 Besar di Kediri sehingga kita tidak pernah tahu bagaimana kiprah Miroslav Janu dan upayanya untuk mengantarkan Arema meraih gelar Liga Indonesia pertamanya. Baru pada musim 2010-2011 ini nama Mijan mulai bisa memberikan kontribusi pada Arema dengan meraih posisi runner up di ISL. Hal ini dirasa sangat istimewa, karena selama liga berjalan, Arema sekali lagi mendapat ganjalan masalah yang memang sudah menjadi tradisi dalam tubuh Arema, yaitu masalah dana. Belum lagi selama itu juga kekisruhan di kalangan manajemen juga sangat terasa berat bagi skuad Arema, karena konsentrasi pemain terpecah dengan adanya masalah ini.

Selain nama diatas terdapat juga nama tenar seperti Sinyo Alindoe. Ia adalah pelatih Timnas dan pernah melatih saudara tua Arema, Persema Malang. Sinyo adalah peletak dasar karakter permainan keras Arema. Ia juga menemukan bibit terpendam seperti Aji Santoso. Dengan dibantu beberapa pemain tenar eks Pelita Jaya yang habis terkena skorsing seperti Bambang Nurdiansyah, Donny Latuperissa(Kiper) menorehkan prestasi penting di musim pertama Arema berkiprah di persepakbolaan Indonesia. Arema mampu meraih peringkat 6 pada Galatama 1987/1988, dan bersaing dengan Niac Mitra, Pelita Jaya, Arseto Solo dan Krama Yudha Tiga Berlian di ajang Galatama 1987/1988.

Sebenarnya ada satu nama lagi yang pernah menorehkan prestasi bagi Arema, yaitu Suharno. Pelatih kawakan ini pernah mengantarkan Arema menembus babak 12 Besar di Ujungpandang(kini Makassar). Sayang, kiprahnya bersama Arema tidak mampu menembus babak 8 besar setelah Arema hanya menempati posisi ketiga Grup C Babak 12 besar di Ujungpandang. Pada waktu itu, Suharno banyak dibantu trio Chile periode I yang digawangi Nelson Leon Sanchez, J.C. Moreno dan Juan Rubio. Ditambah pemain tenar seperti Joko Susilo, Nanang Supriyadi, Agus Yuwono, Yanuar Hermansyah, dan Bek masa depan Arema Charis Yulianto. Dimasa kepelatihan Suharno inilah Charis Yulianto memulai kiprahnya bersama Arema.

Salam Satoe Jiwa

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Aremania Balikpapan

  • Twitter Terbaru

    • mungkin aku sudah lelah,boyokku sudah terasa peyok.Wayahnya ngasoh sek.futsalan ae wes... 1 day ago
    • Assalamualaikum...sugeng morning. Dipagi yg full barokah ini,more mbois if kita ngopi dulu,biar awet ireng.Lets start the day with ngipok 1 day ago
    • @baguseko60 sakjane anu...yoopo yo? ngene loh.....ngerti kan? 1 day ago
    • @achmdsyahroni93 oalah,baru buka kenek an ron. dijawab opo gak iki? enko jare sombong lek gak dijawab 1 day ago
    • setelah sekian lama tidak buka twitter,kali ini ane mau bikin kicauan. ngene loh kicauane... 2 days ago
  • Follow junedoyisam on Twitter
  • Pendelok

    • 343,417 wong
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

  • My Family