Kumpulan Cerita-Cerita Aremania Rantau (Bag-4, Habis)

Setelah ayas menampilkan cerita-cerita dari nawak2 yang ayas dapat, ayas sebagai bagian dari Aremania yang sedang merantau mencari sesuap nasi dan pendapatan yang secukupnya (cukup ukut libom, cukup nggawe hamur, cukup nambah mbok enom………hahahahaha) merasa tidak adil jika cuman menampilkan punya nawak2. Ayas mencoba berbagi cerita juga aja.

Ayas berangkat ke Balikpapan tahun 2003 setelah mendapat panggilan interview di sebuah rumah sakit, numpak pesawat ker! joss pokok’e. Pertama2 yo rodok ndredeg hare, lungguh pas sampinge sayap. Eeeeee……….ndelok nang njobo swiwine mentiung-mentiung koyok kudu cuklek ae. Pikirku lek cuklek iki lak jenenge setor nyowo………

Lanjut, ayas berangkat keluar rumah dengan modal 1 stel baju hem Arema seng werno biru putih dan baju2 biasa lainnya. Dan pertama ayas ngekos di sebuah rumah tingkat dengan kamar posisi di lantai 2. Malam2 hari pertama ayas ngekos, sambil nyantai depan teras ayas mencoba bergabung dengan para anak2 muda yang sedang ngumpul bermain remi kartu 13, atau orang Balikpapan menyebutnya dengan permainan jokeran, dengan hukuman  jepitan bagi yang kalah. Dengan gaya SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) ayas turut nimbrung disitu. Dan dalam permainan itu ayas mendengar pembicaraan anak2 muda tersebut dengan menggunakan bahasa Indonesia, akan tetapi disela2 perbincangan ada sering menemukan kata2 yang ayas rasa tidak aneh dan tidak asing “Wadooooooh agitnya kente, gimana nih?” Ada lagi “Kartuku sudah hampir nutup nih, kurang aud aja” ” Sudah malam, ayo ngalup dulu” Dan masih banyak lagi yang ayas dengar.

Lamaaaaaaaaa……….ayas mikir, apa sih yang mereka bicarakan ini, ngalup=pulang, agit=tiga, aud=dua dll, ini Kalimantan ker! dan mereka yang sedang berbincang2 itu adalah anak2 asli produk Balikpapan, bukan seperti ayas.Pikirku lha ayas kan sudah jauh dari kota Ngalam, koq ada kosakata Ngalaman disini. Sungguh 1 hal pertama yang membuat ayas langsung terkesan dengan kota Balikpapan. Akhirnya masalah kosakata tersebut ayas mencoba bertanya2 pada nawak2 tersebut. Ya karena sudah ciri khas Kera Ngalam, sumeh, grapyak, gampang adaptas (meski gak kabeh seh) ayas pun segera gabung dengan komunitas jepitan daerah Prapatan Balikpapan. Setelah ayas nanya, apa memang kata2 itu adalah kata2 yang dibalik, mereka bilang iya. Koq bisa, tanyaku. Ealaaaaaaah………ternyata pak RT tempat kami ngumpul maen remi itu adalah orang Jagalan, pak Somad jenenge (sek talah, ayas rodok lali hare, wes suwe ker cerito iki, wes 8 tahun mergone),  jadi wajar aja kalo dalam perbincangan sehari2, mereka menggunakan kata2 walik’an. Kebetulan juga, pas RT sebelah (hanya dipisah jalan sempit) Pak RETEnya juga wong Mergosono (pak Harto), jadi klop wes, ayas rumongso ngrantau tapi koyok gak adoh omah. Krasan dadine.

Selang beberapa lama ayas tinggal di Balikpapan, ayas berkesempatan kerja di Rumah Sakit Pertamina Balikpapan. Dan ternyata di sana banyak nawak2 yang asalnya dari kota Ngalam. Setelah hampir 4 tahun ayas ada di Balikpapan, bahasa Ngalaman pun telah berhasil ayas masyarakatkan dalam lingkungan kerja ayas, siapapun orangnya, gak peduli posisinya, bosku pun oyi juga, minimal mereka tahu kala ayas ngomong ojob, mereka tahu bahwa itu artinya bojo=istri ayas.

Ditambah lagi cerita pertama ayas menonton Arema kala melawan Persiba. Saat itu masih dalam kondisi Arema bermain di level divisi 1 karena degredasi, kalau nggak salah sekitaran tahun 2004, waktu itu ayas sudah janjian ama nawak ayas Winggih mau ke stadion. Maen sore jam 3. Waktu ayas keluar dari kos2an ayas memakai baju biru Arema, saat itu kebetulan Pak Somad sedang berada depan rumah ngomong, gak usah make kostum, daripada nanti terjadi apa2 sama suporter persiba. Ahirnya ayas putuskan tetep make baju biru, tapi tak jaketi. Ternyata memang benar, sesaat sebelum masuk stadion ternyata ada sejenis razia oleh oknum suporter Persiba, bagi yang menggunakan kostum Aremania harus dilepas atau dibalik (dengan anggapan mereka akan menjadi suporter Persiba juga, karena kebetulan warna kebesaran suporter Persiba juga biru). Ayas bertekad tidak akan melepas kostum ayas, tapi konsekuensinya ya harus didobeli jaket.  Banyangin aja, Balikpapan adalah kota yang bagi ayas suangat panas. Selama pertandingan ayas jian model koyok di oven, ndledek keringete pokok’e. Sepanjang pertandingan ayas berteriak sendirian untuk mendukung Arema, karena kebetulan ayas tidak ketemu dengan Winggih. tapi puas waktu itu ayas nonton, meski hasil akhirnya imbang.

Di rumah sakit Pertamina, ayas bersama Winggih, Lazkar, Agung, Totok  juga membentuk sebuah tim futsal yang kami beri nama Arema RSPB. Dimana dalamposting ayas yang lain juga ayas bahas.

Dan masa terindah adalah saat ayas bertemu dengan nawak2 Aremania Balikpapan yang lain (yang saat itu masih belum dideklarasikan sebagai korwil). Masih teringat sekali, ayas bisa bertemu dan ngumpul dengan nawak2 yang lain adalah berkat jasa seorang nawak bernama Dzulfikri melalui Pacebook. Dengan mereka kami berjuang untuk mendaftarkan korwil Balikpapan secara resmi ke Arema.FC, meski dengan sedikit sandungan. Akhirnya kami berhasil juga. Dan juga kisah ini ayas postingkan juga dalam page yang lain. Dan dengan terbentuknya korwil ini, kami jadi sering ketemu di sekretariat kami di Perum Graha Indah Blok M.

Dan begitulah ceritaku, bagaimana ceritamu?

Salam Satoe Jiwa

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s