Mengenang Peristiwa Tambaksari Kelabu

Sepakbola Indonesia berduka. Olahraga yang seharusnya menjadi pemersatu sebuah bangsa malah menjadi bumerang bagi masyarakatnya.

Lewat sebuah prosesi yang tidak sampai memakan waktu 2×45 menit terjadilah sebuah insiden besar. Media serentak memberikan berita yang bombastis berkaitan dengan kerusuhan di Stadion Tambaksari Surabaya.

Laga yang berlangsung di Stadion Gelora 10 November Surabaya harus berakhir di menit ke 86. Padahal sepanjang 86 menit berlangsungnya pertandingan, terjadi adu skill yang menawan yang diperagakan para pemain Arema dan Persebaya. Nyaris skor 0-0 itu pecah andai saja Ahmad Kurniawan selaku penjaga gawang Arema tidak bermain gemilang pada sore hari itu.

Di menit ke61 tanda-tanda kerusuhan mulai terlihat, tatkala sebagian Bonek yang memadati Stadion Tambaksari mulai melempar pemain Arema. Ketika Alexander Pulalo hendak mengambil lemparan ke dalam.

Keadaan diperparah ketika di menit ke-80 Ahmad Kurniawan menerima beberapa kali lemparan batu dari Bonek di belakang gawang. Sayang wasit Jimmy napitupulu bukannya mengambil tindakan tegas terkait perilaku penonton, malah memberikan kartu kuning kepada AK. Sungguh patut disesalkan. Pada saat itu AK tidak berniat mengulur waktu pertandingan, tapi ia menyelamatkan diri ketika beberapa lemparan batu menghunjam dirinya.

Keadaan semakin tak terhindarkan ketika di menit ke-85 Ahmad Kurniawan tergeletak di lapangan karena lemparan batu Bonek. Semenit kemudian para penonton yang sebelumnya memasuki lapangan untuk mencopot spanduk diikuti penonton liar lainnya. Mereka ternyata mengambil kesempatan untuk berbuat ricuh di lapangan dan ikut serta membuyarkan pertandingan. Serentak kedua kesebelasan beserta aparat pertandingan menuju ruang ganti pemain. Itupun dengan catatan pemain Arema masih terlihat mendapat timpukan dari penonton di bangku VIP.

Ratusan polisi yang disiagakan langsung mengambil tindakan. Namun mereka kalah kuantitas dari suporter tuan rumah. Sedianya petugas keamanan dikerahkan 4 SSK(Satuan Setingkat Kompi) atau sekitar 400 personel oleh Panpel. Tapi atas desakan polwiltabes Surabaya akhirnya jumlah ini dilipat gandakan menjadi 700 personel. Dengan jumlah tersebut sangat kurang memang untuk mengamankan sekitar 23.000 penonton pada pertandingan tersebut.

Sebelum pertandingan memang sempat terjadi kericuhan. Tatkala sekitar 300 suporter yang tidak memiliki tiket menjebol pintu masuk stadion dan terlibat bentrok dengan aparat. Sempat disiarkan disalah satu stasiun televisi swasta ketika ratusan suporter tersebut berdesak-desakan memasuki stadion.

Sementara di luar stadion suasana mencekam berkobar di beberapa jalanan Kota Surabaya. DI Luar Stadion Tambaksari kobaran api membumbung tinggi ke angkasa. Beberapa mobil di bakar, sementara puluhan korban mulai berjatuhan. Mereka berasal dari Aparat Kepolisian, Bonek dan warga Surabaya lainnya. Beberapa perusuh ditangkap.

Simak kutipan berita berikut ini :

Bonek Ngamuk, Gelora Membara
BARA AMUKAN BONEK: Suasana di luar Stadion Gelora 10 Nopember Surabaya usai pertandingan Persebaya dengan Arema Malang kemarin sore.

Tiga Mobil Dibakar, 13 Polisi Luka Ringan, Satu Luka Berat
SURABAYA – Aduh, aduh, suporter Persebaya kembali bertindak anarkis. Tak puas melihat berlangsungnya pertandingan melawan Arema Malang dalam babak Delapan Besar Copa Dji Sam Soe di Gelora 10 Nopember Surabaya kemarin, para pendukung yang dikenal dengan sebutan “bonek” itu pun berulah ngawur.

Bukan hanya terjun ke lapangan dan mengakibatkan dihentikannya pertandingan pada menit ke-86, bonek juga menimbulkan kerusuhan serta kerusakan berat di mana-mana.

Seberapa parah? Bayangkan, tiga mobil dibakar hebat, belasan lainnya rusak-rusak. Termasuk, truk polisi dan ambulans milik RSUD dr Soetomo. Kaca-kaca stadion serta sejumlah bangunan di sekitar stadion rusak. Perusakan tersebut terus dilakukan sepanjang rute kepulangan bonek dari kawasan stadion hingga Jl Ngagel Jaya Selatan.

Para suporter Persebaya sebenarnya sudah “panas” sejak tengah-tengah pertandingan. Pada laga kedua babak Delapan Besar tersebut, Persebaya memang harus menang 2-0, kalau masih ingin lolos ke babak selanjutnya. Pada laga pertama di Malang, 1 September lalu, mereka kalah 0-1.

Para suporter yang mencapai 23.000 orang (versi panitia pelaksana pertandingan) itu tak puas melihat berlangsungnya pertandingan. Hingga mendekati akhir pertandingan, Bejo Sugiantoro dkk tak mampu menjebol gawang Arema.

Puncaknya terjadi pada menit ke-86 itu. Kiper Arema, Ahmad Kurniawan, terjatuh kena lemparan batu penonton. Pertandingan sempat dihentikan lama. Ketika dia berdiri, tiba-tiba para penonton dari tribun timur berbondong-bondong memasuki lapangan. Situasi makin tak terkendali saat suporter dari tribun lain ikut memasuki lapangan.

Para pemain pun berlari mengamankan diri dan kerusuhan berlanjut antara suporter melawan ratusan aparat (sekitar 700 petugas). Para suporter meneruskan dengan perusakan serta pembakaran. Puluhan titik kebakaran terlihat di dalam stadion kebanggaan Surabaya tersebut.

Hanya, karena konsentrasi pengamanan terpusat di dalam stadion, tak disangka, yang terjadi di luar jauh lebih parah. Sekitar pukul 17.30, perusakan dan pembakaran dimulai di luar stadion.

Ironisnya, sasaran pertama adalah mobil aparat. Tepatnya sebuah mobil dinas Koarmatim (Komando Armada RI Kawasan Timur). Ketika itu, mobil KKM (Kepala Kamar Mesin) KRI Pulau Rupat tersebut dikendarai Pratu Wisnu Sri Wardhana.

“Saat itu, Wisnu hendak pulang ke rumahnya di kawasan Pucang Sewu,” jelas Kadisprov Armatim Mayor Bambang S. Irianto ketika dikonfirmasi Jawa Pos tadi malam.

Namun, saat melintas di depan Stadion Gelora 10 Nopember, mobilnya terjebak kemacetan. Wisnu tampak shock atas kejadian itu. “Tiba-tiba saya mendengar suara praakkk… Waktu saya lihat, kaca belakang mobil sudah pecah,” ungkapnya.

Setelah memecah kaca belakang, massa lantas menggoyang-goyang mobil dinas TNI-AL tersebut untuk digulingkan. Melihat gelagat yang tidak baik, Wisnu langsung melompat ke luar dan menyelamatkan diri. Selanjutnya, massa yang tak terkendali itu pun langsung menggulingkan serta membakar mobil tersebut.

Keberingasan massa juga tertuju ke mobil operasional antv yang kemarin menyiarkan langsung pertandingan tersebut. Suzuki APV bernopol B 8743 KR milik antv langsung dibakar hebat, begitu massa melemparkan rokok dan korek api yang menyala ke dalam tangki bensinnya. Kaca depan Toyota Dyna milik antv juga pecah.

Kerugian lebih berat dialami Telkom Surabaya Timur yang digandeng antv sebagai mitra kerja siaran langsung pertandingan. Tercatat, dua mobil pemancar milik Divisi Long Distance Representative Office Telkom hancur lebur dirusak massa.

Kerusakan Daihatsu Hi-line bernopol L 1225 JB milik Telkom tersebut mirip mobil operasional antv yang letaknya memang berdekatan. “Disulut tangki bensinnya,” kata Agus Juliansyah, teknisi bagian satelit Telkom Surabaya Timur.

Namun, yang paling diprihatinkan Telkom Surabaya Timur adalah kerusakan yang menimpa Nissan Diesel L 7612 Y, mobil operasional yang lain. Maklum, selain rusak berat, banyak peralatan teknis yang dicuri. “Salah satunya adalah spectrum analyzer. Nilainya Rp 300 juta. Siapa yang mau mengganti kerugiannya?” ungkap Agus seraya menggaruk-garuk kepala.

Begitu dahsyatnya ulah anarkis bonek, tercatat 14 polisi luka-luka dan puluhan topi polisi yang diletakkan di truk Dalmas dicuri. Anggota yang mengalami cedera paling parah adalah Bripda Kukuh. Kepalanya bocor dan kakinya terkena hantaman batu-batu. Begitu parahnya, dia harus dilarikan ke RSUD dr Soetomo untuk mendapatkan pertolongan. Sebanyak 25 panitia pelaksana pertandingan juga dilaporkan mengalami luka-luka akibat ulah bonek.

Di sepanjang perjalanan pulang, para bonek itu juga merusak dan melempari kendaraan. Aksi perusakan itu terjadi di Jl Dharmawangsa, Jl Ngagel Jaya Selatan, dan Jl Biliton.

Lia (tidak mau disebut nama lengkapnya), seorang ibu yang rumahnya tepat berada di depan stadion, merupakan salah satu korban perusakan. “Apa yang dilakukan ini kriminal. Lebih baik tidak ada pertandingan sepak bola di Surabaya,” pintanya saat menghubungi kantor Jawa Pos tadi malam.

Dengan perilaku bonek yang lebih dari mengkhawatirkan itu, apa yang akan terjadi kemudian? Mungkin penggemar sepak bola di Surabaya harus siap menghadapi yang terburuk. Sebab, bonek sebenarnya masih dalam masa skorsing PSSI. Mereka tidak boleh mengikuti enam laga away Persebaya akibat kerusuhan saat final Divisi I di Stadion Brawijaya, Kediri, 16 Agustus lalu.

Dari PSSI, ada ancaman sanksi, bonek tidak boleh menyaksikan pertandingan home (di kandang sendiri) selama satu musim. Komisi Disiplin PSSI akan mengagendakan kasus itu pada sidang Kamis, 7 September nanti.

Reaksi keras juga muncul dari pihak aparat. Ada kemungkinan Persebaya bakal tidak bisa main di kandang sendiri karena polisi tidak akan mengizinkan keramaiannya.

“Kami akan mengkaji ulang izin penyelenggaraan pertandingan sepak bola di Surabaya. Kalau begini caranya (selalu rusuh setiap ada pertandingan), lebih baik tidak ada pertandingan sepak bola di Surabaya. Siapa yang bisa menjamin keamanannya?” ujar seorang pejabat di Polwiltabes Surabaya.

Perwira tersebut menambahkan, pihaknya juga akan merekomendasikan ke PSSI supaya tidak ada pertandingan sepak bola di Surabaya. “Buat apa, kalau yang ada hanya rusuh dan bakar-bakaran?” tegasnya.

Kapolwiltabes Surabaya Kombes Pol Anang Iskandar membenarkan itu. “Memang benar kami akan mempertimbangkan secara seksama izin penyelenggaraan sepak bola di Surabaya. Kalau memang dari segi keamanan tidak kondusif, tentu kami akan melarangnya,” ujarnya.

Sementara ini, enam bonek telah diamankan dan tadi malam diperiksa intensif di Polwiltabes Surabaya. Mereka adalah Suroyo, 24, warga Sidotopo; Mulyadi, 18, arek Dupak Masigit; Riki Maulana, 16, beralamat di Sukolilo; Ediyanto, 20, pemuda asal Buduran; Riyanto, 18, dari Sepanjang; dan Irwan Kusanto, 15, bocah asal Bubutan.

“Mereka akan diperiksa intensif dan dijerat dengan pasal 170 KUHP tentang perusakan bersama-sama,” ujar Anang Iskandar, yang kemarin datang ke lokasi dengan ojek, gara-gara jalan begitu macet imbas dari kerusuhan. (git/phd/ano)

Bahkan Menpora Adhyaksa Dault mengatakan kepada media sbb :

Aksi anarkistis suporter Persebaya Surabaya usai pertandingan Copa Indonesia 2006 di Stadion Gelora 10 Nopember Senin lalu mengundang reaksi keras pemerintah. Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Menpora) Adhyaksa Dault menyebut kebrutalan kelompok pendukung yang dikenal sebagai “bonek” itu sudah menjadi masalah nasional sehingga perlu ada tindakan represif.

Yang dimaksud adalah upaya jalur hukum, menindak tegas pelaku di lapangan sekaligus penanggung jawab para bonek tersebut. Dalam kerusuhan itu, bonek memang bukan hanya merusak mobil dan bangunan, tapi juga mencederai sejumlah orang, termasuk di antaranya belasan polisi.

Menpora menegaskan, harus ada hukuman seberat-beratnya bagi para bonek dan penanggung jawabnya. Bonek nanti akan diancam dengan hukum pidana (Pasal 170 jo Pasal 55 KUHP) maupun Pasal 51 jo Pasal 89(2) UU Nomor 3/2005 tentang Olahraga. “Di dalamnya ada hukuman penjara maksimal 5 tahun dengan denda hingga Rp 5 miliar,” jelas Menpora.

Inilah tragedi Kelabu Sepakbola Indonesia. Disaat sedang gencar-gencarnya mempersiapkan diri menggelar Piala Asia tahun 2007, sayangnya tidak diimbangi oleh tindakan Suporter Bonek yang beringas di Kota Surabaya.

Atas kerusuhan yang diakibatkan oleh Suporter yang memiliki atribut khas berwarna hijau ini, setidaknya menimbulkan kerugian immateril yang tidak dapat diperkirakan. Bahkan Stasiun Televisi di Singapura menayangkan kebrutalan suporter dan anarkisme di Surabaya. Setidaknya hal ini tidak saja memalukan citra Indonesia tetapi juga ancaman AFC yang akan meninjau kembali status salah satu tuan rumah Piala Asia kepada Indonesia.

Sungguh kerugian besar apabila Piala Asia 2007 beserta penyelenggaraan Grand Final tidak diadakan di Indonesia. Timnas Indonesia tentu rugi apabila bermain tidak didepan pendukungnya. Sementara menunggu Indonesia menjadi tuan rumah Piala Asia kembali tentu membutuhkan waktu yang cukup lama. Imbasnya persoalan ini yang rugi tidak hanya Bonek, Persebaya dan masyarakat Surabaya tetapi juga termasuk Indonesia sendiri.

Sebenarnya kerusuhan ini bisa diminimalisir. Cara yang paling efektif adalah melalui pembinaan Suporter yang suportif dan jauh dari kata anarkis. Persebaya sebagai Klub tentu memiliki kewajiban untuk membimbing suporternya. Apalagi mereka mempunyai YSS/Bfaster yang selama ini menaungi Bonek seperti yang dikatakan oleh beberapa media. Tinggal bagaimana peran YSS/Bfaster dan Persebaya ini dalam membina suporter Bonek.

Apalagi kita tahu bahwa sebagian besar Bonek adalah berasal dari Golongan masyarakat bawah, anak jalanan dan tidak cukup mengenyam bangku pendidikan. Karena itu pembinaan dan pendidikan tentang cara menjadi suporter yang baik perlu ditekankan.

Manajer Persebaya Indah Kurnia tidak dapat serta merta melepas masalah ini begitu saja. Seolah-olah masalah suporter bukanlah klub yang menanggungnya. Bukankah dalam Manual BLI tercantum, bahwa masalah suporter adalah tanggung jawab Klub juga. Tidak mampu mentaati ataukah memang tidak mau untuk mentaati. Silakan anda tanya kepada Indah Kurnia sendiri. Apabila dia orang bola tentu dia mengerti dengan benar bagaimana mengelola suporter dengan baik.

Sementara YSS/Bfaster yang selama ini identik dengan Bonek juga tidak boleh melepaskan diri dari masalah ini. Artinya mereka mengatakan bahwa kerusuhan ini disebabkan oleh Bonek-Boenk liar yang berasal dari luar kota. Kalau memang seperti itu, apa tugas YSS sesungguhnya. Cuma mendompleng ketenaran bonek atau sebab lain. Bagaimana bisa mereka tidak ikut serta mau bertanggung jawab.

Toh mereka juga sama-sama Bonek. Kalau memang begitu mana perasaan senasib sepenanggungan sebagai sesama Bonek. Kita harus mawas diri dan bersikap ksatria kalau memang yang salah adalah bonek mari kita ikut bertanggung jawab dan ikut serta memikirkan bagaimana agar peristiwa ini tidak terulang di kemudian hari. Sekali lagi Bonek janganlah alergi untuk bersikap berbesar hati mengakui kesalahan dan mau memeprbaiki diri. Kalau memang Suporter tetangga bisa dicontoh kenapa tidak?

Cara yang kedua adalah antisipasi Panpel. Bagaimana mungkin dalam laga yang sedemikian genting ini hanya menurunkan personel keamanan yang terbatas. Tidak ada dana untuk menyewa panpel ataukah sebab lainnya. Bahkan ketika ada lemparan penonton ke arah pemain Arema, pihak aparat dan panpel terkesan NJEGIDEG alias Tidak Tanggap terhadap keadaan. Maka dari itu untuk pertandingan kemarin Kesiapan dan kinerja Panpel saya beri nilai minus.

Ketiga adalah aparat keamanan. Bagaimana mungkin mereka bisa bertindak gegabah. Di dalam stadion bukannya mengamankan pertandingan tetapi malah menonton kedua tim yang sedang bertanding. Apa bedanya mereka dengan penonton. Sudah dibayar, masuk gratis bisa menonton pertandingan pula. Lagi-lagi responsif mereka juga kurang ketika pertandingan mulai memanas, akibatnya mereka tak kuasa membendung laju Bonek yang sudah memasuki lapangan dan membuat kericuhan.

Keempat peran serta kedua tim dan media. Terhadap pertandingan yang sedemikian ketat dan diperkirakan panas ini janganlah sampai mengumbar psywar yang terlalu berlebihan. Peran media juga sangat penting untuk membantu mendinginkan suasana. Hendaknya sama-sama saling menahan diri dan menunjukkan suasana yang bersahabat.

Untuk masalah Infrstruktur Stadion sengaja tidak saya cantumkan, mengingat betapa Negara Indonesia ini belum cukup mampu membuat Stadion yang memiliki Standar keamanan yang kapabilitasnya bisa dipertanggungjawabkan.

Pembaca yang budiman, memang argumen anda tidak sepenuhnya salah ketika siapa yang patut disalahkan atas kejadian ini. Anda menjawab BONEK. Bonek memang salah atas sikapnya dan sebagai pihak yang dirugikan kita tidak bisa antipati terhadap masalah ini begitu saja.

Telah kita lihat bahwa YSS sekiranya kurang mampu untuk membina anggotanya. Mungkin sepatutnya kita tidak hanya mencela ataupun menghina tetapi juga memberikan masukan yang positif agar masalah ini tidaklah semakin berlarut.

Bersikap apriori dan membenci Bonek bukanlah tindakan yang bijaksana. Dengan sikap seperti malah memperparah keadaan. Bonek akan berulah lebih besar dari hal yang kemarin. Karena mereka menganggap bahwa sebagian masyarakat menolak keberadaan mereka dimuka bumi ini.

Berpendapat bahwa Memvakumkan Liga Indonesia selama setahun seperti yang terucap oleh Walikota Surabaya saat ini Bambang D.H. bukanlah ide yang bagus. Bahkan menurut saya luar biasa busuknya. Bagaimana Bambang D.H. bisa berpikiran seperti itu. Ini masalah ada di kota Anda, meski di kota lain kadang juga terjadi hal seperti ini. Tapi bisa Anda pikirkan lebih dalam lagi andaikata Sepakbola Indonesia vakum selama setahun. Bagaimana nasib ribuan orang yang mata pencahariannya bergantung pada cabang olahraga yang satu ini. Dan terpenting lagi bagaimana nasib Timnas Indonesia nantinya. Dengan kompetisi kita mencari bibit yang andal dan dapat kita jadikan Kesebalasan indonesia yang bisa berprestasi di tingkat Internasional.

Sobat, peristiwa kemarin marilah kita ambil pelajaran. Bukan saja bagaimana peristiwa itu terjadi tapi kita tekankan bagaimana di kemudian hari peritiwa ini tidak terulang lagi. Ini membutuhkan peran serta masyarakat berikut kita, agar tidak semakin apriori terhadap kejadian ini.

Sepakbola adalah salah satu identitas masyarakat Indonesia. Berjuta-juta manusia terlibat dan menggandrungi olahraga ini. Andaikata bukan kita yang melakukannya siapa lagi. Dan semoga yang seperti ini tidak akan terulang kembali oleh siapapun.

Salam Satoe Jiwa

4 Komentar

  1. hahaha…lha wong kuthone dewe kok di rusak. tapi ada sedikit keyakinan klo bonek itu bukan berasal dari surabaya tapi pinggiran kota surabaya yg merasa tidak mempunyai rasa memiliki kota pahlawan.

    • masio bonek iku teko endi2 ae, lek seng jenenge ngrusak iku yo salah alias gak bener. kudu dibenerno seng koyok ngono iku

  2. huaaaa rusuh, kapan ya, maen bola pake skill, ga pake jurus ~_~

    • kalau mau begitu, mari kita open our mind bareng2.hahahaha


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s