Sepakbola Kekerasan Atau Perdamaian

Jika pertanyaan ini ditujukan ke Aremania (Kelompok  Supporter  Pendukung PS. Arema Malang), maka dengan tegas mereka akan menjawab PERDAMAIAN!
Jumlah pendukung berat PS Arema yang berkisar 50.000-75.000 orang (lek gak percoyo itungen dewe talah), merupakan jumlah/angka yang amat fantastis bagi kota yang hanya berpenduduk sekitar 800.000 jiwa lebih (data pemerintah tahun 2008). Belakangan anggotanya pun meluas melewati batas-batas geografis ke kota sekitar seperti Pasuruan, Jember, dan Blitar. Bahkan sekumpulan orang “Malang” di Jakarta, Yogya, Bali, Batam, dan beberapa kota di Kalimantan dan Sulawesi juga menghimpun diri dalam aremania. Saat ini telah terjadi identifikasi dengan terbentuknya koordinator wilayah (korwil) untuk “mengorganisir” aremania. Ukuran korwil tidak  dibatasi secara tegas bisa berupa sebuah kawasan atau hanya sekedar sebuah gang sempit.  Dalam setiap minggu ada saja pembentukan korwil baru aremania.  Korwil  terunik yang ada  adalah  Korwil “Arema Police”. Yaitu sebuah Korwil yang beranggotakan Polisi & Polwan di Polresta Malang. Lagi-lagi sebuah fenomena yang luar biasa.
Tidak hanya itu, aremania yang terkenal dengan kretifitasnya yang  sangat tinggi juga telah membentuk sebuah korwil di  dunia cyber  (internet) dengan nama AremaniaCyber, jaman sekarang dengan berkembangnya dunia maya membuat semakin berkembangnya korwil2 yang muncul di dunia tidak jelas itu. Ada yang menyebut dirinya korwil facebook, ada pula yang menyebut dirinya korwil elektronik, dimana mereka biasanya adalah kalangan pecinta Arema yang dengan berbagai alasan tidak bisa untuk secara langsung datang ke stadion mendukung tim Arema, misalnya karena kesibukan pekerjaan atau karena memang kondisi geigrafis Indonesia yang tidak memungkinkan untuk selalu hadir di stadion.

Sekali lagi Aremania merupakan  pelopor dalam penyediaan berita-berita seputar kesebelasan kesayangannya dan pendukungnya dalam bentuk Web Site yang dikelola sendiri oleh  supporter (Korwil Aremaniacyber).  Terbentuknya korwil-korwil seperti itu membuka peta baru  bagi  aremania.
Fenomena aremania berkembang ke arah kepentingan ekonomi, social dan bahkan keamanan. Identifikasi itu dalam masa tertentu justru melewati batas-batas geografis, profesi, etnis, dan agama. Selain soal itu, penggunaan bahasa walikan (balikan) di antara komunitas aremania, makin mengentalkan proses identifikasi diri itu. Aremania sudah menjadi  semacam subkultur, di mana terdapat persamaan emosi yang guyub diantara komunitas tersebut.

Kota Malang sendiri sebenarnya menyimpan tingkat konflik yang cukup tinggi. Di kota pendidikan ini berdiri lebih dari 48 Perguruan Tinggi/Universitas dengan lebih dari 150 ribu mahasiswa di dalamnya yang berasal dari seluruh pelosok tanah air. Di sekitar tahun 1970-an dan awal 1980-an Di Kota Malang sering terjadi perkelahian antar geng yang akhirnya bermuara pada tawuran masal antar kampung, tetapi saat ini hal tersebut nyaris tak pernah terjadi, apalagi sampai terjadi kerusuhan yang berdampak besar di kota yang dulu berhawa sejuk ini. Begitu pula tak pernah terdengar perkelahian pelajar atau mahasiswa bentrok dengan aparat. Hal ini tidak lepas dari pengaruh adanya “Aremania” yang telah memberikan efek sangat positif , karena Aremania selalu akan berusaha untuk kometmen dengan misi menebar virus perdamaian.

Aremania telah berkembang tidak sebatas sesama pecinta bola. Pada awalnya, memang fenomena ini dicurigai sebagai semacam resistensi masyarakat lokal terhadap warga pendatang di Malang. Makanya atribut semacam bahasa walikan menjadi semacam identifikasi terhadap komunitas yang eksklusif. Namun, kecurigaan itu terbantah jika melihat beragamnya asal, etnis, dan profesi para aremania. Mereka tidak saja berasal dari “Malang” asli, tetapi kaum pendatang seperti mahasiswa serta para perantau yang merasa menjadi “malang” ketika mengenakan atribut aremania.

Kelahiran aremania lebih didorong oleh satu kesadaran kolektif atas  dasar persamaan emosi pentingnya melakukan identifikasi. Kesadaran  bersama itu menemukan kanalnya pada olah raga, terutama sepak bola  yang dinilai mampu menampung ekspresi kejantanan dan “liar” itu.  Meski pada awalnya aremania muncul dari mulut-mulut gang yang  cenderung berkesan primordial, fenomena ini kemudian bergeser menjadi fenomena sosial yang egaliter. Ia tidak memiliki satu pemimpin  sentral yang bisa memobilisasi para anggota dalam sekejap. Tidak pula memiliki golongan-golongan “priyayi” yang bisa memanfaatkan massa aremania demi kepentingan politik atau ekonomi. Selain itu, aremania tidak memiliki hubungan secara struktural dengan Yayasan Arema.

Pengorganisasian supporter ini sebenarnya pernah direkayasa secara  kultural pada tahun 1988 dengan dibentuknya Arema Fans Club (AFC).  Organisasi ini dimaksud sebagai upaya mengorganisir para suporter PS  Arema. Tetapi rekayasa ini tidak berhasil dan AFC mati  dengan  sendirinya.

Maka sesungguhnya aremania adalah satu gejala rasionalitas kota  dengan bentuk-bentuk seperti kelompok suporter sepak bola, kelompok musik, dan kelompok-kelompok sosial lainnya. Ia bukanlah sekadar heroisme yang memiliki ikatan etik longgar di antara sesama  anggotanya. Kelompok-kelompok yang tadinya hanya berkumpul di mulut  gang makin meluas dan memperlakukan Kota Malang sebagai satu kesatuan organis yang guyub satu sama lain.

Menonton Sepak Bola di Malang sudah bukan menjadi dominasi anak muda “pribumi” tetapi laki-laki, perempuan, anak-anak, orang dewasa, orang tua dan bahkan dari etnis Tinghoa-pun sudah bisa menikmati  petandingan Sepak Bola di Stadion Gajayana. Keamanan jiwa dan harta  mereka dijamin sepenuhnya oleh aremania sendiri.

Secara pribadi saya yakin, suatu saat nanti Stadion Sepak Bola di Kota Malang sudah tidak lagi memerlukan pagar pembatas antara kursi  penonton dengan lapangan bola, layaknya Stadion di Inggris. Suatu saat nanti sekali lagi Malang dan Aremania akan menjadi pelopor dalam hal ini.

Jelas sudah bahwa sepak bola telah berhasil menjadi alat pemersatu yang berujung pada perdamaian sejati warga Malang.

Dikutip dari Tabloid GO edisi 21 Agustus 2001 (sudah ayas repro)

Salam Satoe Jiwa

2 Komentar

  1. Ayas setuju lop, sasaji Aremania Ngucup.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s