Wajah Suporter Sepak Bola Indonesia

Permainan sepak bola bersifat timbal balik. Dengan sifatnya terebut jelas sepak bola tidak bisa dimainkan sendiri. Dalam prakteknya, sepak bola merupakan interaksi dua pihak yang saling berlawanan dala suatu permainan untuk merebutkan hadiah tertinggi, yaitu kemenangan. Kehadiran suporter memang diakui banyak membantu untuk sebuah tim. Suporterpun dikenal dengan sebutan pemain ke dua belas. Keberadaan pendukung atau suporter merupakan salah satu pilar penting dalam sebuah pertandingan sepak bola, agar suasana tidak terasa hambar dan tanpa makna. Keberadaan suporter dapat menjadikan energi tambahan (doping) untuk para pemain untuk memperoleh kemenangan demi kepuasan parqa suporter atau pendukungnya.

The game isn’t the game without its suporters ……. keberadaan suporter telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah kesebelasan. Suporter hadir dalam suatu arena pertandingan dengan tujuan untuk mendukung tim kesayangan mereka. Mendukung mental dan moral dan sekaligus meneror mental tim lawan. Ketika dua kelompok suporter ini bertemu disebuah arena pertandigan dengan tujuan yang sama namun berbeda tim yang didukung, maka yang terjadi adalah pertentangan, perang yel-yel, saling ejek dan lain-lain. Dan tidak menutup kemungkinan suasanapun akan menjadi kisruh. Dalang urgent kekisruhan sebenarnya dipacu oleh tidak pusnya pendukung terhadap, peformen pemain, wasit yang dituduh tidak adil, yang berujung dengan kekalahan tim kesayangannya.

Bila dicermati, dari suporter tersebut, suporter – suporter yang memiliki karakter keras dan cenderung bertindak anarkis sebagain besar adalah suporter ynag berasal dari kota. Karena dalam masyarakat perkotaan yang cenderung hidup secara individu kriminalitas dan pengangguran, maka konsep solidaritas mereka belum tertata dengan bagus, sehingga suporter – suporter kota menjadi ganas dan mudah terpancing emosinya.(Wahyudiyono 2004)

Parahnya dari segi ekonomi, pendidikanpun mereka merasa termarjinalkan. Sebenarnya mereka juga merasa bagian dari masyarakat yang ingin teraktualisasi. Disini mereka menjadikan stadion sebagai tempat menumpahkan permasalahan tersebut (Dwi W. Prasetiono).

Machiavelli pernah mengatakan bahwa, kekerasan menjadi absah untuk mempertahankan ancaman dan dapat dipraktekkan oleh penguasa. Mungkin sepak bola sedang menuju ke arah teori ini. Manakala sebuah tim kesayangan mereka mendapat perlakuan tidak adil, spontan saja amuk para pendukungnya menghiasi dan seakan – akan melengkapi manisnya pertandingan. Dalam hal ini belum lagi bila sebuah tim memiliki suporter yang fanatik, hampir dipastikan stadion berubah menjadi lautan amuk masa bila tim kesayangannya kalah atau mendapat perlakuan yang tidak adil.

Dalam cacatan penulis masih ingat di benak pikiran kita pada peristiwa  kerusuhan pada saat perempat final Copa Indonesia pada tanggal 4 september 2006. pendukung Persebaya yang mengatasnamakan Bonekmania mengamuk karena kecewa atas hasil timnya yang ditahan oleh Arema Malang dengan skore 0-0 (sebenarnya pertandingan masih tersisa sekitar 5 menit). Persebaya membutuhkan hasil keunggugulan minimal 2-0, karena pada leg pertama kalah 0-1 dari Arema di Malang. Kekecewaan Bonekmania kemudian dilampiaskan dengan melempari para pemain kedua kesebelasan dan merusak berbagai fasilitas stadion serta menyerang polisi yang sebenarnya berusaha menenangkan keadaan atau mereka. Selain itu, tiga mobil termasuk mobil salah satu stasiun telivisi swasta yang kebetulan sedang meliput pertandingan tersebut rusak diamuk masa. Peristiwa kerusuhan inipun terkenal dengan sebutan ”Asu Semper” (amuk suporter empat September)

Kecintaan yang lebih adalah faktor dari hampir semua itu. Kekhasan untuk menggambarkan manusia dalam persepektif cinta memberikan kesan filosofi yang mendalam bahwa kehidupan seni mencintai (the art of loving). Maka dengan cinta manusia sangat mengerti sifat dasar manusiawinya, yaitu letaknya sebuah kasih sayang. Dan sebaliknya, dengan cinta pula manusia berubah menjadi sadis, ambisius, dan bahkan mematikan. (Bambang, 2006 SBTB)

Akan tetapi supporter sepak bola juga bukan melulu tentang kekerasan dan kerusuhan, dalam hal ini Aremania berusaha mempelopori sebagai supporter yang berdiri murni sebagai supporter yang bertugas untuk memberikan dukungan dan support kepada Arema saat bertanding dengan cara Aremania sendiri. Aremania bernyanyi dan menari demi Arema. Aremania juga berusaha untuk menebar virus perdamaian dengan supporter lainnya, karena dengan damai dengan kelompok lain akan membuat suasana pertandingan akan menjadi lebih seru, karena bukan hanya tim yang bertanding yang bersaing, akan tetapi bisa juga suporter bersaing untuk memberikan dukungan kepada tim masing2. Alangkah indahnya bila hal ini dapat terwujud.

Salam Satoe Jiwa

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s