Yakin Supporter Indonesia bisa Damai?

Ketika pertama kali PSSI didirikan tahun 1930, Suratin berharap sepakbola bisa menjadi alat pemersatu rakyat melawan penjajah negara ini. Harapan Suratin itu dapat terwujud dengan mulai adanya perlawanan dari beberapa daerah, sehingga klub sepakbola yang didirikan Belanda mulai tersingkirkan.

Hal itu bisa terwujud berkat adanya kebersamaan diantara elemen sepakbola yang melibatkan klub, pemain, serta pendukungnya. Perjuangan melalui sepakbola tidak terlalu besar perannya dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Namun setidaknya itu memberikan dampak cukup signifikan.

Suratin memunculkan harapan itu tentunya tidak hanya di masa penjajahan saja, tapi juga ketika Indonesia telah merdeka. Tapi belakangan justru yang terdengar adalah kerusuhan antar supporter. Bahkan, tak jarang kerusuhan itu menyebabkan supporter tewas.

Bentrokan antar supporter ini selalu menghiasi wajah persepakbolaan nasional. Imbas dari sikap supporter yang beringas kerap merugikan klub. Ketukan palu komisi disiplin [Komdis] PSSI telah menghukum sejumlah klub akibat ulah supporter mereka yang beringas

Ironisnya, bentrokan antar supporter ini tidak hanya terjadi ketika tim kesayangan mereka bertanding. Justru bentrokan ini beberapa kali terjadi saat dua supporter yang bertikai saling berpapasan di tengah jalan. Akibat kondisi ini, tidak jarang polisi tak mengeluarkan larangan izin menggelar pertandingan.

Selain terkena imbas atas keputusan Komdis dan pihak keamanan, klub juga menerima kerugian lainnya. Mereka tidak bisa mendapat dukungan dari supporter nya, karena dilarang mengunjungi kota tertentu agar tidak terjadi kerusuhan antarpendukung yang sering merugikan banyak orang.

“Sepakbola itu menjunjung tinggi fair play. Kehadiran pendukung di bangku penonton bukanlah untuk mencaci maki lawan atau supporter dari klub lain, tapi untuk menyemangati timnya yang sedang bertanding,” demikian pernyataan mantan ketua Komdis PSSI Hinca Panjaitan.

Persaingan antarklub memang menjadi warna tersendiri di setiap perhelatan sepakbola di seluruh permukaan bumi ini. Namun persaingan itu bisa dilakukan dengan cara sportif. Wajar bila supporter mengeluarkan ejekan terhadap fans dari klub lain. Hanya saja, ejekan itu tidak perlu dikembangkan menjadi adu fisik.

Supporter cukup membalas ejekan dengan cara yang lebih elegan, serta masih dalam batas kewajaran sesuai dengan norma budaya di negara ini. Dengan demikian, di sini dituntut kreativitas supporter dan kedewasaan berpikir dalam membuat yel-yel, maupun mendukung tim kesayangannya. Biar bagaimana pun, persaingan tetap harus terjaga, karena itu memberikan warna tersendiri.

Tentunya kita semua yang mencintai sepakbola memimpikan suatu saat nanti bisa menyaksikan pertandingan sepakbola di stadion bersama supporter lawan yang berada di sebelah kita. Tidak perlu ada lagi penyekatan yang dilakukan petugas keamanan untuk mengelompokkan supporter agar tidak terjadi bentrokan. Semua membaur menjadi satu di dalam stadion.

Tapi semua itu bisa terwujud bila supporter sudah mampu bersikap, dan berpikir dewasa. Jadikan sepakbola sebagai sarana hiburan di tengah kondisi negara yang carut-marut, bukan ajang adu fisik!

Apakah kita sebagai supporter bisa melakukan hal yang seperti ini? Yakin harus bisa!

Salam Satoe Jiwa.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s