AREMANIA : Fanatisme Penuh Pencapaian

Fenomena supporter sepak bola di hampir penjuru dunia telah bergeser dari Team Minded menjadi Football Minded. Namun dipungkiri atau tidak, keberadaan Aremania telah menjadi fenomena langka bagi perkembangan sepak bola Indonesia.

Aremania bukan fanatisme tanpa pencapaian yang jelas, melainkan berada dalam track seiring dengan pencapaian AREMA INDONESIA di kancah persepakbolaan Nasional.

Team minded yang diusung AREMANIA adalah sebuah fanatisme supporter terhadap tim sepakbola, mereka disatukan oleh sebuah simbol, diikat oleh rasa kebersamaan. Inilah yang membakar jiwa para  supporter dalam satu dekade terakhir.

Idiom yang dibawa oleh Arema sejak 11 Agustus 1987 membawa sejarah penting bagi persepakbolaan nasional. Tak cukup sampai disini, nama AREMA diusung oleh sang founding father kala itu yakni H. Acub Zaenal dan Ir. Lucky, seolah mewakili ruh masyarakat Malang.

Dalam setiap pertandingan, AREMA INDONESIA selalu dipenuhi oleh pendukung fanatiknya. Tak hanya remaja, anak-anak, namun juga kakek-kakek. Di pojok kampung, resto, gedung perkantoran seolah gegap gempita membicarakan Arema. Sekali lagi, ini tidak cukup disebut sebagai Team Minded yang mengusung jargon “The game isn’t the game without its suporters” ya…keberadaan AREMANIA bukan hanya sekedar Team Minded namun sebuah spirit baru yang dalam konteks sosial disebut sebagai Unity (kebersamaan)

Indikasi keberadaan AREMANIA yang lepas dari paradigma sempit lazimnya para supporter bola, memang telah terjadi. Itu berarti, AREMANIA berdiri sendiri searah dengan hingar bingar Industri bernama sepakbola, namun tetap menyatu dalam kesamaan aktualisasi jiwa.

Yel Yel, bapakku AREMANIA, makku AREMANIA, mbahku AREMANIA merupakan aktualisasi jiwa para AREMANIA dalam menyampaikan dukungan pada tim kesayangannya. Dinding stadion Kanjuruhan dan Gajahyana menjadi saksi yel – yel mereka. Pencapaiannya jelas! menghendaki AREMA INDONESIA berjaya di lapangan hijau.

Pesan Fanatisme yang ditujukan kepada Pengurus AREMA INDONESIA hanya satu. AREMA menang dan bukan AREMANIA menangis. Percakapan di warung kopi, perempatan jalan, diskusi di Cafe dan lobby berbintang mengisyaratkan satu pesan yang dapat diartikan “football minded”. Dan fanatisme Aremania hanya ditujukan kepada tim Arema, bukan kepada yang lain.

Kehadiran para AREMANIA di tribun Kanjuruhan bisa dipastikan menyaksikan tim mereka berlaga. Metamorfosa jiwa fanatisme “Team Minded” ini dihinggapi oleh virus “Football minded”.

Permainan bola yang cantik, koleksi goal berlimpah, serta tambahan torehan point kemenangan menjadi impian AREMANIA. Diluar tribun, Aremania kembali mengusung “team minded” yang bangga kepada identitas mereka sebagai Arek Malang.

Mungkin terlalu berlebihan, jika Arema diibaratkan Ruh bagi penggemarnya. Tapi inilah fakta! yang patut digarisbawahi. Bahkan, bisa jadi tanpa Arema Indonesia FC pun, fanatisme, jiwa dan semangat AREMANIA tetap melekat di hati warga Malang di manapun mereka berada.

 

Salam Satoe Jiwa

3 Komentar

  1. Saya menyukai tulisan Anda..itu adlah fakta yg dituliskan dengan kata kata…

    • Tinggal aremania sendiri yg harus bisa menjaga pencapaian yg telah ada.karena aremania bisa menjadi besar hanya oleh aremania,bgt pula aremania bisa hancur hanya oleh aremania sendiri

  2. janco


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s