Ekspansi dan Tepo Seliro Aremania

Dua kata diatas tepat sekali jika dikaitkan dengan Aremania. Tidak ada yang menyangsikan bagaimana riuh rendahnya maupun gegap gempita Aremania untuk mendukung Arema. Bahkan ketika Arema sedang menjalani tour pun Arema akan selalu berada di samping suporternya. Dalam sanubari, doa maupun dukungan langsung di stadion.

Dalam konteks hubungan antar suporter hal ini tidak mustahil untuk dilakukan. Sepanjang kedua belah pihak, baik suporter tamu welcome maupun suporter lawan sugeng rawuh kepada tuan rumah. Mutlak diperlukan sikap seperti itu mengingat Sepakbola Indonesia ini memiliki sensitivitas yang tinggi satu sama lain.

Tidak dipungkiri jika hubungan antar suporter Indonesia “tidak sekondusif” hubungan klub dan suporter yang selalu mesra dan terkait satu sama lain. Namun toh itu bukan halangan bagi masing suporter untuk merekatkan hubungan satu sama lain tanpa menimbulkan gesekan satu sama lain.

Coba kita putar memori kita untuk perjalanan Aremania di masa lalu. Esensinya adalah Tour Aremania di Sidoarjo 2001, Kediri 2003 maupun Madiun 2005. Nyaris isinya adalah pedih untuk mengingat semua. Namun itulah fakta sejarah, terlepas mana yang benar dan salah. Fungsi sejarah sebagai sarana belajar, agar kelak suatu peristiwa pahit nan getir itu dapat kita hindari di masa datang.

Dari ketiga peristiwa diatas bisa dibilang kita(Aremania) baik oknum maupun anggota Aremania sesuai KTA, terkoordinir ataupun terkoordinir turut andil dalam kerusuhan antar suporter diatas. Terlepas nantinya sejumlah issue maupun fakta bahwa ada pihak yang tidak menginginkan Aremania maupun Arema sendiri tumbuh menjadi besar dan terbaik.

Ada seorang kawan dari Solo mengatakan Tour-nya Aremania ibarat sebuah ekspansi. Menyetir dari doktrin Angkatan Perang modern “Barang siapa mendominasi Stadion maka berharaplah akan superioritas suatu tim”. Itulah mengapa jika Aremania Tour maka sanggup membelah stadion menjadi perpaduan warna biru dan pendukung tuan rumah.

Ibarat sebuah peperangan dalam tour itu menggabung turunan sifat dasar manusia untuk memelihara dominasi dan persaingan sebagai saranan memperkuat eksistensi diri/kelompok. Implikasinya bisa dilihat dalam tour itu tergabung antara semangat militansi dan fanatisme mendukung sebuah tim agar mencapai kemenangan.

Kita tentu mengerti dengan jelas Indonesia adalah perpaduan dari suku, bangsa, bahasa, ras maupun agama. Masyarakat Malang kebanyakan adalah pencitraan dari kehidupan Ken Arok yang memiliki harga diri, keras dan pantang menyerah. Itulah jiwa Malang asli yang menaungi banyak Aremania meskipun tidak seluruh Aremania itu sendiri asli lahir dan besar di Malang.

Tidak dapat ditolak jika setiap Aremania melaksanakan tour pasti berhadapan dengan suporter lain atau masyarakat yang memiliki adat istiadat berbeda dengan yang kita miliki. Itu adalah konsekuensi dari kebhineka tunggal ika, Semboyan bangsa Indonesia yang berasal dari Frase Bahasa Jawa Kuno. Hal ini harus kita pahami nantinya agar tidak terjadi kejutan budaya (cultural shock), dan keterasingan budaya (cultural mismatch).

Apa yang terjadi di Sidoarjo, Kediri maupun Madiun ada diantaranya sebuah miss perception dan kesalahan prosedur. Panpel menetapkan sekian kuota untuk Aremania. Meski kita datang dengan bermodal namun harus kita sadari bahwa kita datang dengan jumlah diatas yang ditetapkan Panpel. Ada beberapa kemungkinan untuk hal ini : Fanatisme dan Militansi Aremania sangat-sangat hebat. Kedua, bisa jadi kita melakukan kesalahan dalam koordinasi tour. Dengan jumlah yang berlebih ketika tour tanpa kita sadari terdapat suporter yang tidak dikoordinir ataupun suporter lain yang kita sebut sebagai “oknum”.

Meski memiliki rasa senasib sepenanggungan yang harus dijunjung tinggi. Namun, kita harus insyaf, jika apa yang disebut sebagai oknum ataupun suporter tidak terkoordinir memiliki potensi negatif untuk merugikan citra Aremania. Ini bukanlah sekedar suudzon belaka, namun seyogyanya kita dapat mengantisipasi hal ini untuk menanggulangi hal buruk dikemudian hari. Kita juga tidak perlu repot mengklarifikasi tiap masalah dan menuding mana yang oknum dan mana yang palsu yang bertujuan untuk memperburuk citra Aremania.

Satu yang lebih penting dalam hal tulisan kali ini adalah diperlukan sikap tepo seliro pada saat tandang ke kota lain. Sudah dijelaskan diatas bahwa tiap daerah pastinya memiliki kultur maupun adat istiadat yang berlainan dengan daerah kita. Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan kepada kita ‘Unity in Diversity’ but literally it means ‘(Although) in pieces, yet One’.

Saya menyadari Aremania bukanlah didominasi Kera-kera yang berdomisili di Malang, Jawa Timur ataupun Indonesia. Falsafah Jawa “Tepo Seliro” adalah sebuah falsafah sarat makna dan merupakan nilai adiluhung budaya Jawa. Falsafah ini mengajarkan agar manusia bisa bersikap sensitif satu sama lain, bertenggang rasa dan saling memahami satu sama lain. Itu adalah cermin dari dunia non-fisikal dalam peradaban ini.

Tidak ada salahnya Aremania menggunakan falsafah tepo seliro. Saling lempar senyum dan salam dan memahami bahwa kita sama sebagai satu suporter, meski berbeda ideologi dan aktualisasi diri dalam menyampaikan dukungan. Kita upayakan dan tunjukkan Aremania adalah suporter beradab dan mengerti unggah-ungguh ketika tour ke luar kota.

Posisi Aremania dalam Suporter Indonesia adalah pionir. Sebagai Pionir tentunya punya tugas berat selain mempertahankan citra dan performance nya dalam mendukung Arema juga bersiap ide dan tenaga sebagai pembaharu.

Kita berharap Suporter Indonesia(khususnya Aremania) bukanlah bagian dari semangat Chauvinisme daerah. Apa yang terjadi kita jadikan renungan dan memahami bahwa peristiwa itu tidak boleh terulang lagi. Semuanya bukan saja untuk Aremania, tapi seluruh masyarakat Indonesia.

Salam Satoe Jiwa

2 Komentar

  1. tak share om

    • monggooooooooooo………………lg gering makane gak akeh isine artikel e


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s