Akankah Suara Aremania Terdengar Sayup?

PSSI memang telah memutuskan pengurus mana yang berhak mewakili Arema Indonesia di pentas Liga Indonesia tahun ini. Ada kubu yang menang dalam hal ini dari kubu M. Nur, ada juga yang terpinggirkan dari kubu Rendra Kresna. Akibat dari eker-ekeran ini memang tidak berdampak serius dengan  perpecahan pada aremania, tetapi eksistensi di lapangan (baca:stadion) akan turun itu sudah pasti. Suara Aremania akan semakin terdengar sayup.
Bagaimana tidak akan sayup, dengan “kemenangan”  kubu M. Nur ini berakibat Arema Indonesia pindah home base dari Stadion Kanjuruhan di Kepanjen Kab Malang kembali ke stadion sebelumnya Gajayana  di Kota Malang. Sudah menjadi rahasia umum bahwa keberadaan Arema di stadion Kanjuruhan tidak lepas dari tangan Rendra Kresna yang juga bupati Kab Malang ini. Sebagai pihak yang menang sepertinya segan juga untuk memakai stadion yang dikuasai pihak lawannya, atau dari pihak yang kalah  enggan untuk memberi tempat kepada pihak lawannya, entahlah, hanya kedua belah pihaklah yang tahu.
Keberadaan Arema di Stadion Kanjuruhan dimulai pada tahun 2004 -sebelumnya di stadion Gajayana- merupakan sebuah keharusan. Sebagai tim eks Galatama yang masih eksis, kian tahun terus bertambah menambah pula jumlah suporternya. Daya tampung Gajayana 20 ribu penonton tidak mencukupi jumlah Aremania yang ingin menyaksikan tim kebanggaannya. Maka pindah ke Stadion Kanjuruhan yang kapasitasnya lebih besar hampir 2 kali lipatnya, 50 ribu penonton, lebih dari cukup untuk menampung Aremania di Malang Raya.
Tugas suporter sejatinya adalah datang ke stadion untuk mendukung tim kesayangannya, Aremania cukup baik melaksanakan tugas itu. Ribuan Aremania mampu bersifat fair dan sportif terhadap tim kebanggaannya ataupun kepada tim lawan. Jumlah massa yang banyak itu tidak menimbulkan efek yang merugikan pihak lain apalagi untuk bertindak anarki, Aremania cukup dewasa untuk itu, nama besar Arena dan Aremania cukup terjaga.
Kepindahan ke stadion Gajayana  adalah suatu kemunduran. Keberadaan Aremania akan semakin berkurang di stadion, daya tampung pasti tidak akan mencukupi apalagi jika pertandingan big macth, coba bandingkan bila di stadion Kanjuruhan akan lebih mendingan. Maka akan berakibat pula dengan berkurangnya suara  menggelegar dari para Aremania. Berkuranga pula kreativitas Aremania yang selama ini yang dipertunjukkan di stadion baik yel-yel, tarian “efek gelombang”, dan kor mars kebanggaan. Mereka sangat terorganisir, tertip, dan atraktif.
Masalah daya tamping stadion ini  adalah faktor penting bagi Aremania, semakin besar daya tampung semakin baik pula. Dan itu tidak saja berlaku di kandang tetapi juga untuk posisi tandang. Masih lekat dalam ingatan pada ISL 2009/2010 yang saat itu Arema Indonesia menjadi juaranya. Pada laga pamungkas, tidak tanggung-tanggung  Stadion Utama Gelora Bung Karno hampir penuhi oleh ribuan Aremania, padahal yang dihadapi adalah Persija –dengan Jakmanianya- yang nota bene tuan rumah. Nah jika stadion SUGBK yang cukup besar bisa “dikuasai” , malah pindah ke stadion Gajayana yang ukuran Aremania cukup kecil, apa jadinya nanti.

Arema bersama Jakmania Di Stadion Gelora Bung Karno

Persoalan eker-ekeran  dua kubu ini juga berdampak pada kualitas pemain Arema yang direkrut. Beberapa waktu Aremania dikejutkan dengan gagalnya para 8 pemain bergabung Arema, seperti Zulkifli Syukur, Ahmad Bustomi, Arief Suyono, Saktiawan Sinaga, Purwaka Yudhi, Benny Wahyudi, Waluyo, dan Juan Revi. Gagalnya ke-8 pemain bukan karena tidak berkualitas, tetapi karena mereka termasuk direkrut oleh kubu Arema yang kalah sebelum ada keputusan dari PSSI. Kehadiran ke-8 pemain itu cukup berarti, sebab jika jadi bergabung, tim Arema Indonesia akan beraroma TIMNAS, cukup membanggakan sebenarnya.
Sayang sungguh sayang, andai tim ideal tersebut terwujud akan menambah semangat Aremania, tidak hanya perasaan subjektivitas yang ditonjolkan tetapi juga rasa objektivitas karena tim ini memang bagus. Kompetisi ISL 2011/2012 –jika PSSI konsisten- akan digelar bulan Oktober ini Dan inilah yang menjadi ujian Aremania sekarang, badai demi badai sepertinya masih menghadang. Apakah masih tetap eksis atau justru semakin sayup dampak dari eker-ekeran ini. Di depan tantangan Aremania/nita besar menantang: mempertahankan diri sebagai suporter terbaik di Indonesia.

Salam Satoe Jiwa

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s