Paradoks Kapitalisme Sepakbola Indonesia

Sepakbola adalah paradoks, laksana menghadirkan suatu pertentangan abadi. Dengan permainan kaki menghadirkan dua pihak yang dihadapkan pada kondisi berlawanan. Ada satu pihak yang dihadapkan sebagai pecundang, ada pula tim lain yang dihadapkan sebagai pahlawan. Entah itu mewakili sebuah komunitas hingga antar bangsa yang memiliki perbedaan kultur.

Cerita tentang paradoksnya sepakbola itu tidak hanya terjadi pada kondisi teknis di lapangan. Dimana setiap tim menghadirkan berbagai strategi maupun kemampuan teknisnya untuk menghantam lawan dan memenangkan pertandingan. Ada faktor nonteknis yang tidak dapat dipisahkan dari dunia sepakbola. Ekonomi.

Bicara mengenai faktor ekonomi tentu tidak luput dari faktor dana yang membiayai setiap klub untuk berkompetisi di berbagai ajang sepakbola. Di Belahan Eropa, industri sepakbola menghadirkan sebuah revolusi dimana miliaran mata uang euro berkutat didalamnya. Beberapa dekade tidak hanya menghadirkan perubahan baru dalam dunia sepakbola, tetapi juga perubahan ekonomis yang mengakibatkan sepakbola modern dipengaruhi kapitalisme global.

Beberapa klub Eropa sukses dalam berkompetisi global karena tidak hanya didukung landasan ekonomi dan manajemen yang sukses tapi juga prestasi yang mengantarkan mereka memiliki lebih banyak meneguk jutaan fans untuk dijadikan ladang bisnis dan marketing klub. Simak ekspansi Manchester United dan Real Madrid sampai ke benua Asia.

Di Indonesia tentu keadaan diatas berbanding terbalik. Di sinilah letak paradoks yang coba saya utarakan secara singkat. Silakan dibandingkan apakah sepakbola Indonesia sudah menjadi industri.

Jika parameter yang dihunakan adalah banyaknya fans dan jumlah individu yang bergantung pada dunia ini tentu bisa dikatakan bahwa sepakbola adalah sebuah industri. Ambil rata-rata jika setiap klub ada 20000 suporter dan dikalikan dengan lebih dari 100 klub di Indonesia. Tentunya anda akan mendapat hasil kalkulasi berjumlah sekitar 2 juta orang. Ini belum termasuk beberapa klub yang mempunyai suporter dengan militansi yang lebih. Bahkan Aremania suporter Arema mampu menghadirkan nuansa biru di Stadion Kanjuruhan dengan kuantitas mencapai 80000 orang. Sebuah rekor yang sampai saat ini tidak dapat dipecahkan untuk rekor penonton yang hadir di stadion dalam kompetisi reguler Liga Indonesia maupun Copa Indonesia.

Tapi coba lihatlah dengan sudut pandang ekonomis. Apakah sepakbola Indonesia ini menjanjikan untuk dihitung sebagai komoditi industri?

Nyaris, mayoritas klub di Indonesia menggunakan dana APBD untuk membiayai klub. Hanya beberapa klub yang berani mandiri untuk mengikuti kompetisi Liga Indonesia dibawah naungan perusahaan yang bersedia mensponsorinya. Contoh Arema Malang dengan PT Bentoel, Semen Padang, dan PKT Bontang.

Bahkan Arema Malang dengan segala upaya manajemennya berhasil meraup pendapatan 3 Miliar dari penontonnya yang selama ini dikenal dengan sebutan Aremania. Jumlah tersebut mungkin kalah jika dibandingkan dengan dana yang dikeluarkan Yayasan Arema maupun Bentoel sendiri sebesar 13Miliar pada Liga Indonesia 2006. Belum lagi dari sponsor Arema beruap PT Bintang Toedjoe dengan produknya Extra Joss yang dua tahun menemani Arema ini dan PT Excelcommindo/XL.

Ada sisi positifnya dari pembiayaan Arema selama ini untuk mengarungi Liga. Mungkin tahun ini belum bisa dikategorikan “untung”. Bahkan bisa dibilang masih “tekor” mengingat Yayasan Arema masih menanggung beban pengeluaran Arema selama beberapa musim. Tapi lihat dari sisi lain. Yups, Arema tidak membebani Kota Malang untuk menyisihkan dana lewat APBD demi membiayai perjalanan Arema.

Simak lika-liku perjalanan klub-klub di Indonesia sepanjang musim mengikuti kompetisi Liga Indonesia. Nyaris anggaran yang dikeluarkan untuk membiayai klub selalu bertambah sepanjang tahun. Problemnya klasik dikarenakan harus menanggung pengeluaran sedemikian besar untuk mengontrak dan menggaji pemain serta pelatih.

Beberapa pemain dikontrak dengan angka diatas 1Miliar rupiah. Apa jadinya jika ada sebuah klub yang dengan terpaksanya mengontrak beberapa pemain bintang yang notabene berharga diatas 1Miliar. Tentu ada anggaran khusus untuk itu. Alokasi anggaran tersebut tidak main-main. Untuk mengikuti Liga Indonesia rata-rata klub harus menganggarkan sekitar 15 Miliar rupiah. Dan tentu saja semua itu sebagian besar didanai oleh APBD.

Tidak semua daerah memiliki potensi PAD yang cukup besar. Bahkan banyak sekali Kota dan Kabupaten di Indonesia yang memiliki potensi pendapatan asli daerah(PAD) dibawah 100 Miliar. Apa jadinya jika 100 Miliar itu diambil 15% nya untuk membiayai sebuah tim sepakbola?

Jika tim tersebut meraih prestasi tentu tidak jadi soal. Bagaimana bila tim tersebut babak belur di arena kompetisi bahkan lebih parahnya lagi tidak memberikan dampak positif terhadap perkembangan persepakbolaan di Kota tersebut. Ini tentu menjadi masalah pelik. Apalagi jika dihadapkan pada konflik politik. Siapapun tahu untuk mengeluarkan dana lewat APBD harus mendapat persetujuan masing-masing DPRD setempat. Jika Dewan berpendapat tidak ada gunanya mengeluarkan dana besar untuk membiayai sebuah tim sepakbola tentu akan menjadi masalah rumit.

Dekade 90an telah kita saksikan banyak Tim Galatama yang terpaksa gulung tikar karena tidak mampu membiayai tim. Bahkan banyak sekali Tim eks perserikatan yang menggantungkan pembiayaan timnya dari APBD setempat.

Masyarakat tentu sudah jengah dengan keadaan ini. Bahkan kata mereka lebih baik mengalokasikan dana itu untuk kebutuhan yang lebih important seperti pendidikan dan sarana kesehatan.

Mungkin ada baiknya sebuah tim dibiayai oleh APBD setempat. Tapi besarnya dana yang dialokasikan diusahakan agar tidak membebani APBD dan tidak kontinyu dimana setiap tahun APBD harus mengalokasikan anggaran dananya untuk membiayai sebuah Tim Sepakbola.

Hemat saya, salah satu cara untuk menekan besarnya anggaran tim sepakbola adalah semua tim harus berani dan menempatkan dirinya pada posisi tawar yang tinggi untuk merekrut pemain. Selama ini pemain punya hak tawar yang lebih tinggi apalagi jika pemain tersebut tergolong pemain bintang dan diincar oleh banyak klub.

Inilah efek kapitalisme global yang mendera sepakbola maupun efek aturan Bosman itu sendiri dimana setiap pemain bebas menentukan pilihannya selagi ia tidak terikat kontrak dengan tim manapun.

Di benua biru banyak klub yang menerapkan kontrak pemain dengan durasi diatas satu tahun. Namun hal ini tidak berlaku di Indonesia. Hanya ada sebagian klub yang berani melakukannya dan untuk beberapa pemain saja. Padahal kalau dirunut lebih lanjut kebijakan hal ini menguntungkan sekali buat klub.Akan tetapi dalam perkembangan persepakbolaan Indonesia saat ini, dengan peraturan PSSI terbaru yang mengharuskan tim untuk mengontrak pemain minimal 3 tahun lamanya.

Why? Tentu saja hal ini dapat memangkas anggaran klub karena tidak harus klub tersebut menambah anggarannya dikarenakan harga pemain meroket setiap tahun. Posisi klub memiliki hak tawar yang lebih tinggi. Pemain tidak bisa seenaknya nyelonong tandatangan kontrak di klub lain selagi ia masih terikat kontrak di klub lamanya. Klub juga praktis bisa mengalihkan perhatiannya untuk mengatur anggarannya di musim berikutnya, tanpa khawatir disibukkan pada urusan mempertahankan pemainnya karena sudah terikat kontrak kerja dengan tim untuk beberapa waktu lamanya.

Toh hal ini adalah investasi, tekor dulu tapi boleh menangguk untung kemudian. Hitung saja apabila tiap pemain dikontrak hanya semusim dan setahun, musim depannya tentu harganya sudah naik selangit. Tapi dengan mengikat kontrak pemain selama beberapa musim tentu hal ini bisa ditekan seminimal mungkin. Tergantung dari kebijakan klub itu sendiri dan persetujuan pemain nantinya. Alhasil anggaran tim tidak akan terlalu dibebani untuk membiayai sebuah tim sepakbola. Suporterpun tidak geregetan dan cemas memikirkan pemain pujaannya bakal lari ke klub lain.

Salam Satoe Jiwa

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Aremania Balikpapan

  • Twitter Terbaru

    • mungkin aku sudah lelah,boyokku sudah terasa peyok.Wayahnya ngasoh sek.futsalan ae wes... 1 day ago
    • Assalamualaikum...sugeng morning. Dipagi yg full barokah ini,more mbois if kita ngopi dulu,biar awet ireng.Lets start the day with ngipok 1 day ago
    • @baguseko60 sakjane anu...yoopo yo? ngene loh.....ngerti kan? 1 day ago
    • @achmdsyahroni93 oalah,baru buka kenek an ron. dijawab opo gak iki? enko jare sombong lek gak dijawab 1 day ago
    • setelah sekian lama tidak buka twitter,kali ini ane mau bikin kicauan. ngene loh kicauane... 2 days ago
  • Follow junedoyisam on Twitter
  • Pendelok

    • 343,417 wong
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

  • My Family