Fenomena Sepak Bola Indonesia (Berikut Supporternya)

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa mungkin hanya Indonesia saja yang memiliki jumlah supporter sepakbola terbesar didunia. Dengan jumlah penduduk 210 juta jiwa, banyak potensi sumber daya supporter yang dapat diserap. Ditambah dengan adanya budaya yang sudah mengakar di masyarakat bahwa hanya sepakbola-lah olahraga paling populer di Indonesia terlepas dari semakin buruknya prestasi Timnas kita.

Pertama, saya ingin sedikit menyoroti fenomena supporter sepak bola di Indonesia beberapa tahun belakangan ini. Fenomena ini begitu menarik untuk ditulis oleh saya karena ada beberapa hal yang sedikit diluar nalar saya, yakni:

Supporter
Kalau anda pernah menonton pertandingan-pertandingan sepakbola Liga Indonesia di stadion atau televisi pasti akan menemukan sebuah kerumunan manusia di tribun barat dan timur. Di tribun-tribun inilah semua kelompok supporter sebuah klub berkumpul untuk mendukung klubnya masing-masing. Ada S-Man untuk Sriwijaya FC, JakMania untuk Persija, Aremania untuk Arema Indonesia, Bobotoh untuk Persib Bandung dan sebagainya. Tidak sampai disitu saja, salah satu hal mencolok yang membedakan mereka dengan supporter lainnya adalah atribut yang mereka pakai. Ada dari mereka yang memakai syal, topi, jersey klub sampai rela mengecet seluruh tubuhnya dengan warna klub idolanya. Di samping itu mereka juga memakai warna yang sama sesuai warna klub di setiap pertandingan sehingga terciptalah sebuah kumpulan warna besar yang mencolok untuk dipandang mata.

Sampai disini, mungkin bagi anda tidak ada yang salah tapi beda halnya jika saya melihatnya. Saya adalah salah satu dari sekian banyak pecandu bola di Indonesia dan sangat mencintai salah satu klub dari daratan Eropa. Ketika saya mencoba untuk berpikir secara rasional dalam menyikapi hal tersebut, bukan sebuah solusi yang saya dapatkan akan tetapi sebuah rasa berbeda dari apa yang saya sebut sebagai “HAL YANG IDEAL”. Mungkin karena telah terlalu banyak menonton pertandingan sepakbola diluar negeri, maka tanpa disadari tercipta budaya yang sama pula dengan mereka.

Ketika saya menonton pertandingan sepak bola di luar negeri (wuik, luar negeri hare!), saya jarang bahkan hampir tidak pernah menemukan sekelompok supporter memakai atribut klub secara berlebihan. Memakai jersey klub, jeans, sneaker, syal dan kadang-kadang jaket sudah cukup bagi mereka di sana. Tidak ada yang perlu ditonjolkan dari penampilan tersebut selain kecintaan yang mendalam di hati mereka. Di kesempatan lain, pemakaian atribut sebuah klub secara berlebihan memang dianjurkan untuk beberapa pertandingan besar saja, seperti ajang Piala Dunia, final kejuaraan atau final liga tertentu dan pada dasarnya tidak untuk pertandingan reguler Liga Nasional. Anda bisa buktikan jika anda menonton Liga Inggris, Liga Spanyol, Liga Jerman, Liga Italia dan sempatkan mata anda untuk melihat sejenak atribut-atribut supporter disana.

Masalah banner-banner yang bertebaran diseantero stadion Indonesia juga menjadi pemandangan tersendiri. Banner-banner tersebut bukan berukuran kecil namun berukuran sangat besar dan lebar. Sepertinya ini luput dari perhatian pihak penyelenggara atau panitia pelaksana pertandingan. Sekilas hal tersebut sepele tapi tidak bagi sponsor-sponsor. Pihak sponsor membelanjakan uangnya bermiliar-miliar di Liga Indonesia untuk sekedar memajangkan produknya dilapangan dengan harapan pemirsa di rumah atau stadion tertarik untuk membeli produk mereka.

Nah, dengan adanya banner berukuran raksasa maka space atau ruang bagi sponsor untuk dilihat produknya olah masyarakat menjadi berkurang dan dapat menimbulkan pemindahan ketertarikan penonton untuk lebih membaca banner daripada papan iklan sponsor dipinggir lapangan. Sebagai bahan perenungan, Liga-Liga Utama Eropa telah menerapkan aturan-aturan tertentu yang memperbolehkan banner-banner untuk dapat masuk ke stadion. Bahkan Liga Inggris, melarang supporter untuk mempertontonkan banner berukuran besar dan persuasif selama pertandingan dan dengan pengecualian boleh dikibarkan sebelum atau sesudah pertandingan selesai. Tampak benar semua kepentingan supporter, penyelenggara dan sponsor dijamin karenanya anda tidak akan menemukan banner-banner raksasa bertebaran tanpa kontrol di stadion Inggris.

Untuk instrumen alat musik yang di Indonesia telah menjadi bagian tak terpisahkan dari supporter sepakbola, di Eropa, beberapa kelompok supporter telah menghilangkan tradisi tersebut. Dimulai dengan Irriducibili Lazio di akhir 1980-an dengan tidak lagi menggunakan alat musik seperti terompet atau drum dan kemudian diikuti oleh kelompok-kelompok supporter lainnya di Italia. Di Inggris sendiri, tradisi alat musik telah lama hilang dan digantikan oleh nyanyian saja (anthem). Di Indonesia, anda dapat membuktikannya sendiri.

Kemudian, tempat berkumpul suppoter Indonesia juga ingin saya soroti. Hampir seluruh supporter Indonesia berkumpul di tribun barat atau timur yang notabene lebih mahal sedikit daripada tribun utara atau selatan. Bukannya semangat anti-kemapanan menjadi simbol pergolakan supporter dunia. Di belahan dunia lainnya, tempat berkumpul para supporter justru dibagian yang paling tidak ingin ditempati oleh supporter Indonesia yakni, Tribun Utara dan Selatan. Alasan supporter di sana adalah semata-mata masalah uang disamping telah menjadi tradisi disana yang mengharuskan kelompok supporter fanatik harus berkumpul ditribun utara atau selatan.

Contohnya adalah Irriducibili Lazio yang tak akan pernah beranjak dari Curva Nord (Tribun Utara) dan rival utamanya CUCS Roma di Curva Sud (Tribun Selatan). Diantara mereka telah terjalin suatu perjanjian tak tertulis untuk tidak pernah meninggalkan tribunnya masing-masing selamanya. Oleh sebab itu, jika ada pertandingan Lazio maka tribun utara hanya untuk Irriducibili Lazio dan jika ada pertandingan Roma maka tribun utara akan kosong begitu juga sebaliknya. Begitu juga dengan kelompok supporter lainnya antara ultras Inter dan ultras Milan memiliki tempatnya masing-masing di tribun utara atau selatan sama halnya dengan ultras Torino dan Drughi Juventus. Satu hal yang telah menjadi hukum alam bagi persepakbolaan Italia adalah, ”TRIBUN UTARA DAN SELATAN HANYA MILIK ULTRAS” dan TRIBUN BARAT DAN TIMUR HANYA UNTUK SUPPORTER BIASA. Juga berlaku untuk supporter di Liga Inggris, dan Liga Spanyol.

Nama Klub Sepakbola Indonesia
Sebenarnya lebih menarik untuk membahas kondisi internal klub Indonesia (finansial, dukungan APBD Daerah, dan profesionalitas) daripada membicarakan nama klubnya itu sendiri. Tapi setidaknya hal nama telah menjadi sesuatu yang menarik buat saya. Mungin hampir 70 % klub sepak bola baik di Divisi Utama atau divisi dibawahnya yang memakai nama awalan Per-. Persija, Persita, Persib, Persitara, Persikota, Persema, Persebaya dapat diambil sebagai contoh mudahnya, selain itu singkatan juga banyak terdapat dalam kamus sepakbola kita mulai dari PSMS, PSM, sampai PKT. Hal itu sih nggak ada salahnya dan kata Sheakspeare, ”What is the name?”. Nama bukan menjadi sebuah hal mutlak disini. Walaupun singkatan tersebut kadang tidak cocok untuk di jabarkan, Persita mempunyai arti Persatuan Sepak Bola Tangerang namun kok bisa jadi Persita, huruf “i”-nya apa artinya? Atau hanya sekedar pelengkap untuk membuat singkatan tersebut lebih enak diucapkan dan dibaca. Coba anda tanyakan kepada supporter Fiorentina yang harus berdemo menolak perubahan nama Fiorentina ketika klub tersebut dinyatakan bangkrut dan harus mengganti namanya demi tuntutan profesionalitas di tahun 2002. Selain itu nama klub Indonesia juga sarat pemborosan kata, ketika kita menyebut Persija kita juga harus menyebutnya menjadi Persija Jakarta untuk memperjelas kata-katanya dan agar pihak awam mengerti bahwa Persija itu dari Jakarta, tapi kalau dijabarkan persingkatan maka Persija Jakarta akan manjadi Persatuan Sepak Bola Jakarta Jakarta. Dan berapa lama juga orang asing akan mengingat klub kita jika semua awalannya adalah Per- dari Sabang sampai Merauke. Akan lebih enak jika disebutkan Jakarta, Palembang, Medan, Tangerang, Surabaya. Selain nama daerah lebih terangkat juga menyederhanakan kerumitan.

Akhir kata, semua hal diatas hanyalah sebuah refleksi dan keprihatinan pribadi dari seorang pencinta sepakbola yang mungkin memiliki pemikiran yang berbeda dari kebanyakan masyarakat pada umumnya. Sepakbola di Indonesia memiliki tradisi yang panjang dan penuh kekelaman sehingga pada akhirnya juga memunculkan fenomena-fenomena seperti yang dijabarkan diatas. Kita tidak bisa menyalahkan tradisi, karena tradisi sendiri berasal dari norma-norma masyarakat yang diciptakan oleh masyarakat sendiri. Bukan salahmu dan juga bukan salah kita semua. Itulah tradisi dan sayangnya tradisi sepakbola seperti inilah yang berkembang di Indonesia.

Tapi yo iki Indonesia dengan segala keunikannya.

Salam Satoe Jiwa

6 Komentar

  1. sampek2 peluit wasit gak kendengaran kalah sama trompet suporter…mantap masuk artikel e….lanjut

    • hahahahaha oyi hare bes……….

  2. kok gak sekalian calo ndek stadion dibahas sam…?

    • sek sam, sek semedi golek kata2 seng mbois iki. Boleh juga masukan sampean iku. nuwus

  3. suka ga suka, pemecah sepak bola di Indonesia adalah Arifin Panigoro

  4. Masukan yang bagus…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s